Tak Ada Sekat Untuk Tingkatkan Bakat

25
FAUZAN KESUMA FOR ZETIZEN JABAR EKSPRES BERSEMANGAT: Tiga orang peserta didik SLB Cicendo sedang mempelajari seni kriya kayu di SLB Cicendo, Bandung belum lama ini. Banyak prestasi yang telah diraih oleh siswa-siswi SLB Cicendo di tingkat nasional.

 

BANDUNG – Suasana teduh, adem, dan asri menyelimuti suasana di Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung. Tampak wajah–wajah ceria dan penuh semangat untuk menimba ilmu para peserta didik di SLB Cicendo.

SLB Cicendo merupakan sekolah luar biasa negeri tertua bagi kalangan tunarungu di Indonesia. SLB Cicendo didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 3 Januari 1930. Pendirian tersebut merupakan inisiatif Ny. CM. Roeslfsema Wesselink istri dokter HL. Roeslfsema seorang ahli THT di Indonesia. Gedung SLB Cicendo merupakan cagar budaya yang dilindungi Perda nomor 19 tahun 2009.

Sejumlah prestasi pun pernah di borong oleh siswa–siswi SLB Cicendo mulai dari bidang keterampilan dengan merebut juara tiga se-kota Bandung. Tahun 2015 menjadi juara tingkat nasional pada lomba desain grafis, dan meraih medali emas, pada kejuaran Peparnas, dengan merebut tiga Medali Emas. SLB Cicendo mempunyai 4 Jenis keterampilan yang digemari dan digandrungi oleh siswa-siswinya. Diantaranya Tataboga, Kriya Kayu, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dan Salon.

Yang paling digemari oleh siswa-siswi ialah keterampilan Tata Boga, seperti halnya, Rifan (14) kelas 9 mempunyai bakat dan hobi Tata Boga. Dia menyukai masak-memasak sejak SD. Dapur Tata Boga Café Cicendo sudah menjadi bagian dari belahan jiwanya setiap istirahat sekolahnya. Rifan pun dibantu oleh alumni SLB Cicendo, sebagai asisten juru masak, mulai memasak nasi goreng hingga zuppa-zuppa yang kemudian di jual ke siswa-siswi. Rifan bercita-cita ingin menjadi koki, karena ingin menyalurkan bakat dan minatnya.

Kriya Kayu sangat digemari pula oleh siswa pramuka, dengan dibimbing oleh Anton (50). Para siswa mempelajari mengenal jenis kayu, teknik memotong kayu, teknik mengamplas, dan teknik pengecetan atau finishing. Setelah kriya kayu tersebut menjadi lemari, kemudian di jual ke orang tua murid, atau konsumen saat menggelar pameran kriya kayu.

Meniti bakat, tanpa sekat itulah semangat para siswa-siswi SLB Cicendo, usai lulus siswa-siswa SLB Cicendo mempunyai kemandirian untuk berwirausaha. (leo/azu)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.