Kue Kering yang Terinspirasi Dari Konflik Ambon

Berikan Kreatifitas dan Kemandirian Anak Panti

104
CIPTAKAN WIRAUSAHA: Gerai kue kering hasil produksi Panti asuhan Nurul Ihsan yang selalu ramai pengunjung di saat mendekati bulan Ramadhan dan hari Jum’at.

Keberadaan Panti Asuhan Nurul Ihsah patut menjadi inspirasi untuk semua pihak. Sebab, ditengah keuletan dan doa-doa untuk memecahkan kesulitan membantu anak panti, jalan kemudahan selalu terbuka lebar.

Ali Hamzah (Job), Bandung

Menjelang datangnya bulan Ramadan, ada nuansa berbeda bagi Panti Asuhan Nurul Ihsan. Bagi anak-anak penghuni panti masa-masa menjelang datangnya bulan suci adalah saat yang ditungu-tunggu.

Menjelang Ramadan adalah hari-hari sebuk bagi seluruh anak panti untuk membuat berbagai macam kue-kue kering yang dibuat dari kreatifitas tangan-tangan mungil dibawah bimbingan Arif Bijaksana.

Panti asuhan yang beralamat di Jalan Mekar Manah no.7, Cijerah, Kota Bandung dari hasil penjualan kue-kue buatan anak-anak panti sudah dapat membiayai kebutuhan operasional panti secara mandiri.

Ketika ditemui Arifin menceritakan, Panti Asuhan Nurul Ihsan berdiri pada tahun 2000. Saat ini, ada 300 lebih penghuni anak panti. Jika kebanyakan panti-panti pada umumnya fokus pada pendidikan keagamaan. Namun, Panti asuhan Nurul Ihsan memberikan konsep pendidikan keterampilan hidup khususnya dalam bidang kewirausahaan.

’’Anak-anak dibina disini bermacam-macam, mulai dari yatim-piatu, yatim, piatu, & dhuafa,” jelas Ketua panti, Arif ketika ditemui belum lama ini.

Pada awalnya panti berdiri secara tidak sengaja. Waktu itu, keluarga Arif sedang mengadakan bakti sosial ke Ambon Maluku, karena disana sedang terjadi kerusuhan dan konflik sosial yang menyebabkan sebagian warga disana telantar dan banyak bencana kelaparan.

Arif sekeluarga pergi membawa sembako & pakaian untuk kebutuhan masyarakat Ambon. Hingga pada akhirnya setelah melakukan aksi baksos beberapa kali. Pihak kelluarga merasa kasihan dengan masa depan anak-anak korban konflik di Ambon.

’’Saya bingung dan bercampur sedih waktu itu, akhirnya saya memutuskan membawa 10 anak pada waktu itu,’’kata Arif seraya pikiranya menerawang jauh mengingat masa-masa sulit di Ambon.

Meskipun menyalurkan bantuan makanan kepada korban konflik di Ambon, banyak warga yang menjadi korban konflik memberikan anaknya untuk dibawa kepada keluarga Arif. Hal ini, membuat arif beserta keluarga sangat terharu dengan kondisi masyarakat Ambon waktu itu. Terlebih, berbagai kekerasan dan aksi pembunuhan kala itu kerap terjadi di Ambon dan Maluku.

’’Mereka malah meminta agar anak-anak mereka dibawa ke Bandung untuk di sekolahkan, kemudian kami membawa 10 anak pada saat itu,” kata Arif menjelaskan.

Ketika tiba di Bandung anak-anak tersebut didik dan di rawat dengan kasih sayang oleh keluarga arif dengan di tempatkan di rumah milik keluarga.

Seiring berjalannya waktu, Panti Asuhan Nurul Ihsan berkembang pesat dengan menciptakan pembinaan kepada penghuni pati untuk berwirausaha. Bahkan, dari Panti ini, sudah banyak alumni penghuni panti yang menjadi orang sukses tersebar di penjuru Indonesia.

’’ Saya dengar ada yang jadi kepala sekolah di kampung halamannya sendiri di NTT, ada yang lulus pendidikan S-2, menjadi seorang pekerja di sebuah perusahaan dan ada juga yang ikut mendirikan Panti Asuhan sebagaimana yang saya lakukan,” kata Arief.

Pada awal tahun 2009, melalui ide dari sang istri Nurbayani (yani) sengaja secara iseng membuat kue-kue kering untuk bulan Ramadan dan Idul Fitri. Namun, secara tidak sengaja justru anak-anak panti ramai-ramai ikut membantu.

Dari hasil kreasi tersebut, akhirnya panti asuhan Nurul Ihsan terkenal sebagai tempat membuat kue dari tangan anak-anak yatih dan dhuafa. Sehingga, pada akhirnya usaha panti selalu di banjiri pesanan dari berbagai daerah.

’’Alhamdulillah semuanya ada hikmahnya, kini usaha kue kering sudah sangat maju, malah sudah mendapat sertifikasi halal dan izin produksi dengan merek Nuri Cokies,”ucap Arief penuh rasa bangga.

Ditempat sama Yani sang istri sedikit menimpali ketika Arief tengah di wawancara. Menurutnya, ide membuat kue kering pada mulanya karena anak-anak tidak ada kegiatan sama sekali sepulang sekolah dan diwaktu libur sekolah.

“Mereka hanya tiduran dikamar, sebagian anak lagi ada yang nonton, dan sebagian lagi ada yang maen entah kemana,” ujar Yani.

Pada akhirnya Yani teringat mainan tanah yang suka dimainkan sewaktu kecil dengan cara dibentuk menyerupai kue-kuean, dari situlah ide membuat kue kering lahir.

Selain menjadi wadah anak-anak dalam melakukan kegiatan kewirausahaan, Nuri Cookies juga merupakan ladang usaha bagi Panti Asuhan. Sebab dengan adanya Nuri Cookies, segala kebutuhan anak-anak panti dapat terbantu.

Untuk itu, Yani menghimbau bagi warga yang ingin berinfak atau bershadaqoh dengan cara membeli kue kering Nuri Cokies ada salah satu cara unik yang di sarankannya. Salah satunya, metode jum’at berbagi,

Dia memaparkan cara ini sangat efektif bagi siapa saja yang ingin beramal. Sebab, Panti Nurul Ihsan menyediakan wadah bagi para donatur yang ingin menginfakan sebagian hartanya.
Dengan cara membeli produk anak yatim untuk kemudian dibagikan kepada jamaah jum’at.

’’Cara ini bisa dibagikan sendiri atau bisa meminta bantuan kembali kepada anak-anak panti untuk mebagikannya di setiap jamaah masjid,”kata dia.

Dengan adanya kegiatan kewirausahaan yang berbasis ekonomi produktif, diharapkan anak-anak dapat belajar berbisnis kue kering, belajar bagaimana berjualan dengan cara memasarkan kue, dan tujuan utamanya kelak ketika mereka dewasa dapat menjadi pengusaha.

Yani berharap, dengan bantuan dan dorongan berbagai pihak, dia menyampaikan terimakasih kepada semua dermawan yang telah membantu kegiatan anak-anak panti.

’’ Kami hanya bisa berdoa semoga kebaikan para donatur selama ini menjadi amal shalih dan dibalas dengan ganjaran yang setimpal oleh Allah Subhana Wa Taala,”ucap Yani (yan)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here