KPK Adalah Mitra DPR, Kami Akan Sinergi

Wawancara Eksklusif dengan Ketua DPR-RI, Bambang Soesatyo

67

Partai Golkar akhirnya menunjuk Bambang Soesatyo untuk menjabat Ketua DPR-RI menggantikan Setya Novanto. Senin (15/1), pria yang akrab disapa Bamsoet itu telah dilantik dan resmi menjabat Ketua DPR-RI.

Sejumlah pekerjaan rumah DPR RI pun telah menanti. Mulai dari  banyaknya rancangan undang-undang (RUU) yang dimasukkan program legislasi nasional prioritas (Prolegnas), membangun komunikasi dengan pimpinan Fraksi-Fraksi di DPR, hingga membangun sinergitas dengan KPK, demi membangun citra parlemen yang sempat memburuk.

Untuk mengulas hal itu, wartawan Jabar Ekspres Franciscus T. Lamintang, mewawancarai Ketua DPR Bambang Soesatyo di  ruang kerja Ketua DPR, Gedung Nusantara III, Lantai 3, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana menyelesaikan 50 RUU yang menjadi prolegnas prioritas di 2018?

Saya sudah melakukan komunikasi dengan seluruh pimpinan dari sebelas komisi yang ada di DPR untuk mempercepat paling tidak di 2018 ini, dari setiap komisi mengesahkan satu RUU.

Dari sana, 50 RUU yang menjadi skala prioritas dan sudah dimasukkan dalam Badan Legislasi Nasional (Baleg), beberapa di antaranya adalah RUU Penyiaran (Inisiatif Komisi I), RUU tentang Pertanahan. (Inisiatif DPR, disiapkan oleh Komisi II), RUU tentang Jabatan Hakim. (Inisiatif DPR, disiapkan oleh Komisi III), dan RUU tentang Pengelolaan Ibadah Haji dan Umrah. (Inisiatif DPR, disiapkan oleh Komisi VIII) dan seterusnya.

Yang kita tahu, citra DPR sudah sangat jatuh akibat banyaknya permasalahan yang menjerat, baik kepada anggota hingga ketuanya sendiri. Bagaimana anda memperbaiki citra DPR agar dipercaya publik kembali?

Saya tahu, permasalahan yang sering terjadi kepada anggota DPR adalah korupsi. Maka dari itu, saya bertekad akan meningkatkan hubungan dengan KPK guna membangun sinergitas antar dua lembaga. KPK adalah mitra DPR.

Saya dan Pimpinan KPK pun memiliki hubungan dekat, bukan hanya antara Komisi dengan pimpinan tetapi juga secara emosional. Sehingga, saya rasa akan mempermudah dalam melakukan komunikasi sekaligus kerjasama antar lembaga ini.

Apalagi, Pansus KPK adalah salah satu pangkal publik menjadi tidak percaya kepada DPR. Karena DPR dianggap memperlemah KPK. Walau sebenarnya, niat DPR itu baik, yaitu untuk melakukan pengawasan. Maka dari itu, saya setuju Pansus KPK dihentikan, apabila sampai 14 Februari tidak selesai juga.

Niat baik itu maksudnya seperti apa pak?

Kami sebagai mitra, hanya ingin KPK bekerja dengan profesional dan maksimal. Saya mengatakan seperti ini, dikarenakan ada beberapa contoh kasus yang kami anggap lembaga tersebut masih memiliki sejumlah catatan evaluasi. Contohnya, dalam penetapan tersangka.

Kami sadar bahwa KPK tidak memiliki hak untuk mengeluarkan SP3. Namun tentunya, jangan hal tersebut membuat proses kasus menjadi tidak jelas arahnya, dan membuat tersangka ditahan lebih dari satu tahun. Jadi, kalau sudah lebih serahkan kepada pengadilan untuk ditetapkan bilamana belum kuat ya harusnya memiliki dasar bukan ditahan tanpa arah dan ujung yang belum dapat diketahui kemana.

Kemudian bagaimana menyatukan pendapat antar Fraksi di DPR?

Ya, itu, minggu ini saya akan memanggil seluruh Pimpinan Fraksi-Fraksi. Kita akan ngobrol-ngobrol, agar menemukan solusi. Bagaimana sih agar DPR itu solid dan tidak terpecah. Saya yakin, kalau DPR solid, lembaga lain pasti segan dengan kita.

Lalu, sering kali pembahasan RUU ini terkendala, atau tidak sejalan dengan pemerintah dalam hal ini Presiden, untuk mengesahkan menjadi UU. Bagaimana solusinya?

Ya, itu masalahnya. Tapi, nanti kami akan meyakinkan Pak Presiden, agar mau mengesahkan bersama DPR. Terutama RUU yang sudah menjadi prioritas. Ini demi meningkatkan kepercayaan publik juga.

Saya tidak mau masyarakat atau kalangan publik menilai bahwa DPR mempersulit pemerintah, terlebih dalam menyusun undang-undang. Hal ini saya sampaikan, karena kasus di lapangan. Banyak kasus pembahasan pembentukan undang-undang yang tidak dihadiri pemerintah, padahal ini begitu penting.

Ke depan, kami DPR akan menyampaikan kepada publik, bilamana ada pembahasan rancangan undang-undang yang tidak dihadiri pemerintah. Kami akan sampaikan. Biar terbuka dan jelas.

Sudah kebayang belum, Pak? Enam bulan ke depan bekerja sebagai Ketua DPR?

Waduh, saya sih tidak memikirkan ke sana ya. Yang penting, saya kerja ya kerja saja. Mengalir apa adanya. Jangan menjadi satu beban hidup. Karena toh kita bekerja sampai jenjang ini untuk siapa? Pastikan untuk keluarga.

Kok sejak dilantik jadi ketua DPR, tidak terlihat menggunakan fasilitas negara?

Kalau itu mah gak begitu saya pikirkan ya. Toh buktinya saya sekarang berangkat dan pulang naik mobil saya. Lagipula, bukan bermaksud sombong, mobil di rumah saya sudah banyak. Jadi fasilitas mobil negara, tidak terlalu saya pikirkan.

Apa yang paling berbeda yang Bapak rasakan saat menjadi Ketua DPR?

Hal yang paling berbeda, menurut saya ialah terkait protokoler yang begitu ketat. Kemana-mana, dalam melakukan aktivitas, saya mendapat pengawalan dari Kepolisian. Hal itu yang membuat saya sedikit canggung.

Pada dasarnya, saya senang menjalankan aktivitas secara mandiri dan jangan sampai tersorot publik. Karena kan kita ini wakil rakyat, jangan sampai ada jenjang atau jarak dengan rakyat.

Apakah bapak memiliki program untuk lebih merakyat kepada masyarakat?

Kalau merakyat, jelas itu harga mati. Kita dipilih oleh rakyat. Jadi, ya kalau tidak melayani rakyat, bagaimana dapat terpilih kembali sebagai wakil rakyat.

Apa pesan Bapak untuk disampaikan kepada anggota?

Di sini, saya hanya ingin peran Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) lebih melakukan sosialisasi kepada semua anggota terkait kode etik.

Sebenarnya, semua anggota dewan memiliki kode etik. Di mana kesantunan dan pelayanan kepada masyarakat sudah tercantum dalam kode etik itu. Namun, peran MKD tidak terlihat secara maksimal. Inilah yang akan saya kembangkan.

Sehabis menjadi Ketua DPR, adakah optimisme untuk meraih jenjang lebih tinggi?

Saya sampai saat ini sudah cukup menjadi Ketua DPR. Untuk yang lebih tinggi, saya belum mau. Saya lebih memilih menyediakan waktu kepada keluarga untuk berkumpul, sekaligus bersenda gurau.

Saya bekerja kan untuk mereka. Saat tua seperti ini, sudah waktunya saya fokus kepada keluarga. Bahagiakan mereka.

Lagipula, saya terpilih menjadi Ketua DPR, atas inisiasi rekan-rekan partai. Lalu, tiba tiba ketua umum (Golkar) menunjuk dan mempercayakan kepada saya. Saat ini, saya jalankan dengan nurani dan keihlasan.

Sebagai seorang politisi, siapa tokoh politik panutan Bapak?

Selain semua Ketua Umum Golkar, saya memiliki panutan yakni Soekarno dan Hatta, yang dengan segala perbedaannya dapat menyatukan NKRI seperti saat ini. Tentunya, hal tersebut patut dicontoh dan ditiru.

Apa Hobi anda?

Hobi saya motor besar, dan olahraga menembak. Saking aktifnya, saya dipercaya menjadi Ketua Bidang Hukum PERBAKIN.

Lalu apakah ada ide atau rencana untuk menunggang motor besar ke DPR nanti?

Ya mungkin, di akhir pekan. Kalau kegiatan kerja, sudah cukup pakai mobil. Mobil saya standar dan sudah merakyat. Seperti tadi saya katakan, jangan menonjol dan membuat perbedaan di antara kita. Mengalir saja.

Selain sebagai politisi, Anda dikenal sebagai penulis. Mengapa Anda memilih sebagai penulis buku?

Ya, kalau harta dan benda akan hilang. Tetapi, kalau buku kan harta yang tak akan pudar dan lekang oleh waktu. Penerus kita, baik anak atau cucu, dapat melihat dan bangga akan peninggalan tersebut.

Buku apa yang sedang Anda tulis sekarang?

Ada satu judul buku. Masih rahasia. Mudah mudahan dalam waktu dekat akan terbit.

Terakhir, apa pesan Bapak kepada rakyat,  sebagai Ketua DPR?

Ya, berikan kami waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kami. Saya sadar DPR di mata rakyat selalu buruk. Tapi kiranya, mari kita bekerjasama saling mengawasi. Membangun untuk satu hal, yakni pembangunan bangsa yang lebih baik dan maju. (*/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.