Buat Perda Lingkungan Berbasis Kearifan Budaya Lokal

85

GARUT – Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, tahun 2018 ini merencanakan mengeluarkan tiga Peraturan Daerah (Perda) tentang lingkungan. Sebagai langkah awal penyusunan Perda yang merupakan inisiatif DPRD Kuningan, Ketua DPRD Kuningan pun melakukan studi banding ke cagar budaya Situs Ciburuy di Desa Pamalayan Kecamatan Cigedug.

”Ada tiga Perda lingkungan yang jadi insiatif DPRD Kuningan tahun ini yaitu, pengelolaan mata air berbasis kearifan budaya lokal, pengelolaan DAS berbasis kearifan budaya lokal dan pengelolaan hutan berbasis kearifan budaya lokal,” jelas Rana Suparman, Ketua DPRD Kuningan saat ditemui di cagar budaya Situs Ciburuy, Kemarin (6/4).

Rana menuturkan, sampai saat ini Kuningan sendiri telah memiliki Perda Konservasi yang menetapkan 52 persen kawasan di Kuningan menjadi kawasan hijau. Dengan tiga Perda baru ini, menurutnya lahan-lahan yang ada di Kuningan bisa lebih dilindungi.

”Perda ini sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasaan lahan oleh pemodal, pemerintah jangan malu-malu melawan pemodal, agar rakyat juga tidak malu-malu mendukung pemerintah,”katanya.

Rana menyampaikan, dirinya sengaja membawa para anggota DPRD Kuningan ke Situs Budaya Ciburuy untuk melihat naskah-naskah kuno Sunda yang akan dijadikan dasar dari pembuatan Perda lingkungan. Karena, dari naskah-naskah kuno ini menurutnya banyak nilai kebudayaan Sunda.

Selain ke Situs Ciburuy yang jadi tempat penyimpanan naskah-naskah Sunda kuno. Menurut Rana, pihaknya juga akan mengunjungi Kampung Adat Kampung Naga di Tasikmalaya untuk melihat langsung penerapan nilai-nilai kebudayaan Sunda dalam menjaga lingkungan sekitar.

”Kita juga nanti ke kampung Baduy untuk melihat langsung nilai-nilai budaya Sunda,” katanya.

Rana mengakui, karena dasar dari Perda ini adalah naskah-naskah Sunda kuno, tentunya harus di tuangkan dalam naskah akademik untuk bisa disyahkan menjadi Perda. Karenanya, pihaknya pun akan menggandeng akademisi dalam penyusunan naskah Perda nantinya.

Rana menuturkan, pemerintah pusat telah membuka peluang untuk daerah membuat kebijakan sesuai dengan potensi kearifan lokal di daerahnya. Karenanya, Kuningan mencoba menerapkan budaya Sunda dalam pengelolaan lingkungan.

Rahmat Kurnia, pendamping para anggota DPRD Garut dari komunitas Pangauban Cimanuk mengungkapkan, Situs Ciburuy merupakan tempat penyimpanan naskah-naskah Sunda kuno yang telah ditetapkan jadi cagar budaya oleh pemerintah.

Semua naskah kuno yang ada di Ciburuy, menyerang Rahmat telah disimpan dalam bentuk digitalisasi oleh pemerintah pusat. Namun, naskah aslinya yang ditulis di atas daun lontar, masih tersimpan di Situs Ciburuy.

”Situs Ciburuy ini dahulu menjadi sumber ilmu, semua anak-anak raja pada jaman kerajaan Padjadjaran, belajar di tempat ini dari naskah-naskah kuno,” jelas pria yang biasa disapa Rahmat Leuweung ini.

Karenanya, menurut Rahmat tak salah jika DPRD Kuningan yang berniat membuat Perda lingkungan berbasis kearifan budaya lokal melihat langsung naskah-naskah kuno yang ada sebagai referensi Perda.

”Di Ciburuy ini, sedikitnya ada 10 naskah Sunda kuno yang ditulis di atas daun lontar, semua disini masih dalam bentuk aslinya,” katanya.

Naskah-naskah Sunda kuno ini, menurut Rahmat kebanyakan berasal dari tahun antara 3 hingga 8 Masehi. Adapun naskah-naskah yang akan dijadikan bahan untuk Perda oleh pemkab Kuningan diantaranya adalah naskah Amanat Galunggung, sewaka darma dan naskah siksa kanda Ng karesian.

”Naskah siksa kanda Ng karesian, isinya tentang ilmu pengetahuan mulai dari pemerintahan hingga lingkungan yang kemudian metodologinya dituangkan dalam naskah amanat Galunggung. Sementara naskah sewaka darma merupakan petuah-petuah leluhur yang mengandung nilai spiritual,” katanya.

Ditemui ditempat yang sama, Usep Ebit Mulyana dari komunitas Dewan Pangauban Cimanuk mengungkapkan, pemerintah daerah harus mulai mengimplementasikan konsep-konsep hasil kajian mengenai pengelolaan linkungan hidup berbasis kearifan daerah. Karena, kearifan daerah adalah sebuah konsep yang lahir, tumbuh dan berkembang berabad-abad lamanya, berdasar dari keadaan alam dan masyarakat yang ada di daerah.

”Implementasinya harus diwujudkan dalam bentuk peraturan daerah seperti yang akan dilakukan di Cikuray,” katanya.

Ebit melihat, kunjungan DPRD Kuningan yang akan membuat Perda lingkungan ke Situs Ciburuy juga sangat tepat mengingat Ciburuy adalah tempat penyimpanan naskah-naskah kuno terbesar yang didalamnya mengajarkan mulai dari perilaku hidup keseharian, pengelolaan sumber daya alam hingga ilmu politik dan pemerintahan,” katanya.

”Harusnya Pemda Garut juga melakukan hal yang sama, karena kerusakan alam di Garut sudah terbilang parah,” katanya.

Ebit juga menyarankan agar Pemkab Garut tempat Situs Ciburuy berada mulai melakukan kajian dari naskah-naskah kuno yang ada di Ciburuy yang nantinya bisa dijadikan sebagai rujukan pengelolaan pemerintahan.

”Masyarakat Sunda saat ini sudah mulai banyak yang sadar akan akar budayanya, makanya Situs Ciburuy ke depan akan terus didatangi,” katanya. (rul)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.