55

Bersinergi Sosialisasikan Bahaya Difteri

LANGSUNG DIVAKSIN: Bio Farma melakukan aksi preventif wabah difteri, terus dilakukan secara masif. Terbaru, perusahaan pelat merah tersebut menggelar penyuluhan di lingkungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Kamis, (4/1). Untuk mencegah infeksi penularan dan kematian yang disebabkan penyakit tersebut.

BANDUNG – Langkah Bio Farma untuk melakukan aksi preventif wabah difteri, terus dilakukan secara masif. Terbaru, perusahaan pelat merah ter­sebut menggelar penyuluhan di lingkungan Kantor Perwa­kilan Bank Indonesia Jawa Barat, Kamis, (4/1).

Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan dengan mem­pertimbangkan Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri ada­lah penyakit infeksi menular dengan resiko kematian bagi penderitanya. Kegiatan so­sialisasi juga mengenalkan bahaya penyakit difteri, seka­ligus pemberian vaksin bagi pegawai dan keluarga.

“Kami bekerjasama dengan Biofarma sebagai BUMN yang memproduksi berbagai jenis vaksin nasional. Tak hanya menghadirkan narasumber, semua karyawan dan kelu­arga juga berkomitmen untuk memutus mata rantai penu­laran melalui pemberian vak­sin difteri,” ujar Kepala Humas BI Jabar, Yayan Istiandi.

Menurutnya, edukasi se­cara komprehensif mutlak dibutuhkan masyarakat, khu­susnya bagi BI Jabar yang concern terhadap kesehatan para pegawai dan keluarganya. “Tujuan kegiatan sosialisasi ini adalah sebagai upaya un­tuk memberikan pemahaman komprehensif terhadap bahaya penyakit difteri. Kami juga perdalam berbagai riaikonya dalam forum diskusi dan ta­nya jawab dengan seluruh pegawai,” bebernya.

Mengantisipasi wabah yang kian meluas, Bio Farma terus memproduksi vaksin yang mengandung difteri, sekaligus memaksimalkan kapasitas yang ada. Vaksin dengan kandun­gan difteri yang terdiri dari DT, Td dan DTP-HB-Hib, pada tahun 2018 akan diproduksi sebanyak 19.5 juta vial.

Jumlah tersebut, sudah ter­masuk untuk kebutuhan imu­nisasi nasional dan untuk kebutuhan Oubreak Respon­se Immunization (ORI).

Corporate Secretary Bio Farma, Bambang Heriyanto menyata­kan, Bio Farma siap untuk me­menuhi kebutuhan vaksin yang mengandung difteri. Dengan kemampuan produksi di angka tersebut diharapkan, dapat me­menuhi kebutuhan pemerintah baik untuk program imunisasi rutin maupun untuk pencega­han KLB difteri.

“Dengan kemampuan dan kapasitas yang ada, kami siap untuk memenuhi kebutuhan pemerintah untuk mencegah KLB difteri semakin menyebar di Jabar dan bahkan di seluruh Indonesia. Total produksi vaksin dengan kandungan difteri yang akan kami pro­duksi pada tahun 2018 akan ditingkatkan kapasitas pro­duksinya menjadi 19,5 juta vial”, ujar Bambang.

Sementara itu, Direktur Pe­masaran Bio Farma, M. Rah­man Rustan mengatakan, untuk pengadaan Anti Dif­teri Serum (ADS) hasil pro­duksi Bio Farma, saat ini ma­sih dalam tahap peng­embangan dan optimalisasi.

Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan ADS untuk pasien difteri, masih melalui impor dari salah satu mitra Bio Farma. “Kami masih melaku­kan pengembangan dan op­timalisasi produksi ADS, karena upaya ini membutu­hkan waktu cukup panjang untuk memproduksinya. Se­dangkan saat KLB, diperlukan penanganan yang cepat, se­hingga pengadaan ADS dila­kukan melalui mekanisme impor,” ujar Rahman.

Rahman menambahkan dengan ketersediaan ADS yang terbatas, distribusi dila­kukan melalui kordinasi Ke­menterian Kesehatan dan RS Pemerintah.

“Saat ini kapasitas produk­si Bio Farma, kami prioritas­kan untuk memenuhi kebu­tuhan dalam negeri, permin­taan eksport baik vis UNICEF, PAHO dan Bilateral telah kami nego untuk dijadwal ulang, setelah kebutuhan da­lam negeri terpenuhi.

Adapun untuk mendapatkan vaksin, program ORI dapat menghubungi Dinas Keseha­tan atau fasilitas kesehatan pemerintah. Sedangkan untuk vaksinasi mandiri dapat men­ghubungi distributor resmi Bio Farma yaitu Sagi Capri, Merapi, IGM dan Rajawali Nusindo, atau menghubungi Klinik Imunisasi dan Apotek Bio Farma. (nif/ign)

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.