Petani Gadok Kabupaten Bandung Barat Raih Penghargaan FAO

Fokus di Lingkungan Sehat yang Efisien

13
HENDRIK KAPARYADI/JABAR EKSPRES
AYOMI PETANI: Ulus (kanan) tampak memantau langsung produksi pertanian seperti tomat dan brokoli di gudang produksi miliknya .

Siapa sangka, seorang petani dari Kabupaten Bandung Barat mampu mendapatkan penghargaan di kancah Internasional. Padahal, dia hanya lulus sekolah dasar (SD).

Hendrik Kaparyadi, Lembang

Dialah Ulus Pirmawan warga Kampung Gadok, RT 01/RW 01, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Saat dijumpai Harian Jabar Ekspres (Jawa Pos Grup) di kediamannya, Ulus masih tampak sibuk memantau produksi hasil pertaniannya di gudang produksi miliknya yang tidak jauh dari rumahnya.

Ulus juga memantau langsung hasil panen brokoli, buncis, tomat hingga cabai untuk selanjutnya dijual ke konsumen di berbagai daerah. Ini memang runititas yang dia kerjakan hingga akhirnya namanya pernah diakui Food and Agriculture Organization (FAO) of The United Nations di Bangkok, Thailand, beberapa waktu lalu.

Ulus yang mengenakan kameja berwarna kuning dan celana jeans berwarna biru itu lantas menceritakan awal pengalamannya bergelut di dunia pertanian.

Dia mengaku, sejak kelas 6 sekolah dasar (SD) atau tepatnya pada 1987, dia kerap ikut membantu orangtuanya Adin, 65, dan Juju, 58, untuk bercocok tanam di lahan seluas 100 tumbak. Tak hanya berpeluh keringat di ladang, Ulus rupanya ikut menimba ilmu ekonomi secara otodidak: jualan hasil panen orangtuanya.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya 1995, Ulus pun terdorong untuk lebih fokus untuk mengembangkan hasil pertanian orangtuanya. Dia urus sendiri tanpa memikirkan hasil dan jaringan yang akan dipenuhi untuk bisa tetap memutar modal.

Namun, tak disangka, keuletan dia mengolah itu lantas berbuah baik. Pada 1995, mampu mengekspor buncis super ke Singapura dengan pengiriman 3 ton buncis super per hari.

”Bahkan pengiriman buncis ke Singapura terus dilakukan sampai saat ini. Sebab, permintaan dari Singapuran cukup tinggi,” tutur Ulus kepada Jabar Ekspres, baru-baru ini.

Sempat shock dengan tingginya angka permintaan, lambat laun dia pun berproses menjadi pebisnis. Dia mulai bisa membawahi banyak petani.

Alhamdulillah hasil pertanian saya terus berkembang dibantu oleh 25 petani lainnya di bawah kelompok Gapoktan Wargi Panggupay Lembang. Jujur saja, saya sekolah hanya sampai SD dan lebih memilih usaha di pertanian,” kata Ulus kelahiran 1980 ini.

Lebih lanjut Ulus memaparkan, saat ini lahan yang digarap bersama petani lainnya hanya memiliki luas 4 hektare. Dia fokus terhadap penanaman sayuran dengan menerapkan pola lingkungan sehat yang efisien.

Secara terang-terangan, Ulus menyebutkan, pola tanam yang dilakukan dengan menerapkan sektor terpadu. Artinya, petani yang ada di lokasi ini rata-rata memiliki ternak. Kotoran ternak itu dijadikan untuk pupuk sayuran dan limbah sayuran untuk pakan ternak.

”Dengan pola begitu, petani di sini tidak usah membeli pupuk yang mahal cukup memanfaatkan kotoran ternak. Justru lebih efisien dan murah, bahkan dampak terhadap sayuran pun jadi sehat dan bagus,” urainya.

Ditanya soal produksi sayuran yang dikelolanya setiap hari, Ulus menyebutkan, untuk sayuran buncis yang memiliki masa panen selama 45 hari, dari 1 kilogram tanam buncis mampu menghasilkan produksi panen mencapai 7 kuintal. Sekali tanam sayuran buncis dia mampu hingga 4 kilogram tanam.

”Belum lagi tomat kami bisa menghasilkan panen puluhan ribu ton dan beberapa sayuran lainnya. Kami bersyukur karena di Lembang ini memiliki cuaca dan kondisi tanah yang memang cocok untuk sayuran,” paparnya.

Ulus mengaku tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan di tingkat Internasional. Sebab, dirinya hanya petani di sebuah kampung yang sehari-hari fokus terhadap kualitas produk sayuran yang dijual langsung kepada konsumen dengan menerapkan kemasan yang tak kalah hebat dengan produk yang dijual di supermarket.

Ulus yang diundang untuk mendapatkan penghargaan FAO di Thailand itu mengaku, sempat kaget. Sebab, dia ujug-ujug didatangi petugas Kerjasama Luar Negeri (KLN) dari Kementerian Luar Negeri pada September 2017. Di situ, dia  sekaligus dimintai biodata dan sejumlah sertifikat pelatihan pertanian yang pernah diikuti.

Dua minggu selanjutnya, petugas tersebut mendatangi rumah Ulus sekaligus memantau langsung lahan pertanian yang digarap oleh Ulus dan rekan-rekannya. ”Puncaknya pada Oktober lalu, saya tiba-tiba mendapat undangan dari FAO Thailand dan memberitahukan kalau saya akan mendapatkan penghargaan. Tentu saya dan keluarga sangat bahagia atas apresiasi tersebut,” ujarnya.

Yang tidak kalah membanggakan, Ulus merupakan satu-satunya petani di Indonesia yang mendapatkan penghargaan tersebut. Dia diakui dunia bersama petani lainnya dari negara Nepal, Afghanistan, Thailand dan Jepang.

Setelah mendapatkan penghargaan tersebut, FAO Thailand berjanji akan memberikan kemudahan dalam memasarkan produk sayuran milik Ulus. ”Termasuk saya juga diberikan pelatihan dan arahan bagaimana meningkatkan kualitas produksi sayuran dengan pola yang mereka miliki,” terang Ulus seraya menyebutkan penghargaan diberikan langsung oleh Assistant Director-General FAO Regional Representative for Asia and The Pacific, Kundhavi Kadiresan.

Untuk menyukseskan produksi sayuran, kata Ulus, tidak bisa hanya petani saja yang bergerak. Namun, harus ada juga dukungan dari pemerintah daerah.

”Sejauh ini memang dukungan dari pemerintah sudah ada. Seperti untuk bantuan tranportasi dan lainnya. Namun, yang menjadi persoalan petani itu butuh modal untuk mengembangkan produksi pertaniannya. Sementara untuk pinjam ke bank itu persyaratannya cukup sulit sehingga harapan kami ke depan pemerintah dapat membantu petani untuk memberikan kemudahan mendapatkan modal,” terangnya.

Dengan modal yang kuat, kata Ulus, tentu para petani juga memiliki peluang besar untuk mengembangkan hasil pertaniannya. Bahkan, petani bisa lebih sejahtera lantaran memliki modal untuk terus mengembangkan jauh lebih baik. ”Kami ingin para petani itu lebih sejahtera dan maju ke depannya,” tandasnya. (*/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here