Perempuan Pintar Harga Mati

Atalia Lebih Suka Istilah Keadilan daripada Kesetaraan Gender

”Peran perempuan sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Saya lebih setuju jika emansipasi perempuan itu sebagai keadilan bukan kesetaraan gender,” ujar Atalia.

Menurut dia, perempuan hebat lahir dari sebuah pendidikan. Baik itu pendidikan formal maupun informal. Semakin banyak perempuan terdidik, maka semakin maju pula pembangunan bangsa ini.

Sebagai Ketua Tim PKK Kota Bandung, dirinya terus mengajak perempuan untuk mau melanjutkan kuliahnya. Baik itu S1, S2 atau hingga S3.

”Pokoknya, perempuan pintar itu harga mati. Karena menjadi perempuan itu tidak mudah. Maka diperlukan pendidikan yang tinggi,” ujar dia.

Namun menurut dia, pendidikan paling keren adalah pendidikan kehidupan. Di mana, perempuan harus berlajar mengenali dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Namun, jika perempuan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, minimalnya harus mengikuti pendidikan informal. Seperti lembaga kursus, agar memiliki keterampilan.

”Perempuan akan menjadi istri, lalu memiliki anak. Dengan pendidikan atau keterampilan, setidaknya enggak akan terlalu bergantung pada suami. Suatu saat jika suaminya meninggal atau ada sesuatu hal lain, di situ diperlukan survive,” ujar dia.

Untuk itu, saat ini pemerintah Kota Bandung, menurut dia, gencar melakukan pemberdayaan bagi perempuan. Perempuan difasilitasi agar mau mengembangkan potensinya.

”Kan ada program PK (perempuan kepala keluarga). Ini menjadi sebuah upaya bagiama agara perempuan tidak lemah,” ujar dia.

Dirinya mendorong perempuan baik dari sisi softskill maupun hardskill. Dia berharap, dengan dorongan itu perempuan di Kota Bandung lebih mandiri. (adv/fik)

Cerdas karena Gemar Membaca

Atalia Praratya Kamil.
Atalia Praratya Kamil.

MEMILIKI suami seorang wali kota membuat Atalia Praratya Kamil sibuk. Istri Ridwan Kamil ini mengaku memiliki kesibukan yang sama padat dengan suaminya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here