Hanya Punya 6 Murid

Total SMP IT Budi Luhur Miliki 36 Siswa

3
siswa SD
AMRI RACHMAN DZULFIKRI/JABAR EKSPRES
AWASI ANAK: Siswa baru sekolah dasar saat mengikuti upacara pada hari pertama sekolah di SDN 032 Tilil, Jalan Puyuh, Kota Bandung, kemarin (17/7).

jabarekspres.com, BANDUNG – Ketika ratusan sekolah dipadati siswa siswa baru dan para orangtua yang mengantar, pemandangan berbeda terjadi SMP IT Budi Luhur. Tak terlihat keramaian di sekitar sekolah yang berlokasi di Jalan Kebon Rumput, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah ini.

Di sekolah ini hanya menerima tujuh siswa di 2017. Dari ke tujuh siswa itu, hanya enam orang saja yang akhirnya tetap memutuskan untuk menjalani pendidikan.

Berdasarkan informasi, SMP IT Budi Luhur telah berdiri sejak 1976. Sebelumnya, sebelumnya sekolah ini merupakan sekolah swasta di bawah naungan yayasan Pambudi Luhur, dengan produk pendidikan berupa SD, SMP, SMA, dan Stikes Budi Luhur. Meski lengkap, nyatanya tidak serta merta membuat SMP IT Budi Luhur ini diminati. Malah seiring berjalannya waktu, semakin sedikit peminat yang mendaftar ke sekolah yang berada di lingkungan TNI ini.

Di hari pertama masuk sekolah, tampak semua siswa yang berjumlah 36 orang yang terdiri dari kelas 7 berjumlah 6 orang, 15 siswa kelas 8 dan 15 siswa kelas 9 dan 10 orang guru berkumpul di lapang sekolah untuk melakukan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Kepala Sekolah SMP IT Budi Luhur Miftah Salahudin tetap mawas diri terhadap kondisi itu. Dia tetap menghadapi para siswa di hari pertama sekolah.

”Bisa dilihat sendiri, secara keseluruhan siswa di sekolah kami hanya 36 orang. Sekarang hanya halal bihalal, besok mungkin akan ada kegiatan lagi. Intinya hari ini adalah silaturahmi bersama siswa baru,” ujarnya saat ditemui usai pelaksanaan MPLS.

Miftah mengungkapkan, sebenarnya sempat ada wa­cana penutupan sekolah ter­sebut oleh pihak yayasan. Acuannya, ketiadaan peng­elola. Namun urung dilakukan hingga akhirnya Miftah Sala­hudin memangku jabatan sebagai kepala sekolah.

”Mungkin melihat sejarah­nya sebagai sekolah pertama yang dibangun yayasan. Akhir­nya dimandatkan kepada saya,” paparnya.

Dia mengaku optimistis SMP IT Budi Luhur akan berkembang menjadi pesaing bagi SMP berkonsep Islamic Terpadu (IT) yang ada di Kota Cimahi. Kini, pihaknya melakukan langkah nyata dengan berusaha terus mempromosikan dan menge­nalkan perubahan konsep sekolah dari sekolah biasa menjadi sekolah IT.

”Perlu ada transformasi dari kami pengelola sekolah yang baru. Saya optimistis, tahun de­pan akan lebih banyak pendaf­tar ke sekolah kami,” terangnya.

Secara teknis, dengan hanya sedikitnya jumlah siswa, maka ruang bangunan yang digunakan hanya sebanyak tiga ruang kelas. Sisanya, bangunan sudah rapuh dengan kerusakan skala ringan.

Meski kondisi apa adanya, dia tetap berusaha memberikan ilmu sebanyak mungkin kepada siswanya. Untuk menunjang kebutuhan, disediakan bebera­pa ruangan yang berfungsi se­bagai laboratorium komputer dan laboratorium IPA.

Berbicara lebih jauh menge­nai alasan sekolah itu tetap difungsikan, Abdul Haq sela­ku Staf Sarana dan Prasarana Yayasan Pambudi Luhur, me­nyatakan SMP IT Budi Luhur berusaha mengakomodir kebutuhan anak-anak yang termarjinalkan untuk bisa mengenyam pendidikan, se­suai dengan amanat para pendiri yayasan.

”Kami juga ingin memperba­nyak anak-anak yatim dan yang kurang mampu untuk berseko­lah di sini, dan semua biayanya digratiskan. Jadi nanti sistemnya itu subsidi silang, yang mampu membantu yang tidak mampu,” tutur Abdul.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Soreang Nunung Sumirat mengatakan, selama pelaks­anaan PPDB di SMAN Soreang menerima pendaftaran sekitar 1595 untuk jalur Akademik yang diterima sesuai kuota 260 siswa, dan 187 pendaftar di jalur nonakademik. Kuota keseluru­han di SMAN 1 Soreang, 12 rombongan belajar (rombel) terdiri dari 36 siswa per rombel.

”Anak didik baru yang dite­rima di SMAN Soreang se­suai kouta rombel ada sekitar 432 siswa, mereka semua akan mengikuti proses pembela­jaran di sini,” jelas Nunung Sumirat, kemarin.

Sementara itu, kondisi lain terlihat di Kantor Dinas Pen­didikan Kabupaten Bandung, kemarin. Beberapa orang tua calon siswa yang tidak dite­rima di SMP karena terkena sistem zonasi menggeruduk kapala dinas ingin menda­patkan kejelasan tentang sistem zonasi tersebut.

”Kami Sengaja datang untuk mendapatkan kejelasan dinas tentang sistem zonasi PPDB SMP di Kabupaten Bandung, karena anak saya mempu­nyai nilai besar tapi tidak diterima karrna ada sistem zonasi,” jelas Lilis Nurmaya, orangtua siswa asal Kecama­tan Margahayu di Soreang.

Menurutnya pada proses PPDB tingkat SMP kemarin dirinya merasa percaya diri untuk mendaftarkan anaknya di SMPN 1 Margahayu. Sebab, hasil ujian nasional (Unas) yang dimiliki anaknya di atas rata-rata.

Namun alangkah kagetnya Lilis, ketika mengetahui anaknya tidak diterima ka­rena terkena sistem zonasi. Oleh karena itu, dia bersama beberapa orangtua siswa lain­nya mendatangi kantor disdik.

Menanggapi keluhan orang­tua siswa, Kepala Dinas Pen­didikan Kabupaten Bandung Juhana, berjanji akan mela­kukan rapat koordinasi dengan kepala sekolah SMP se-Ka­bupaten Bandung untuk mengkaji kondisi permasa­lahan di tiap sekolah.

”Kami jamin semua anak akan mendapatkan pelayanan pendidikan. Kami akan ke­lurkan kebijakan setelah mengkaji dengan tim kajian dari sekolah,” jelas Juhana, kemarin. (ziz/rus/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here