Adang Muhidin, Pengusaha Konstruksi Jadi Pebisnis Alat Musik Bambu

Kreasi Pertamanya Biola Mirip Kentongan

Kuliah di Jerman dengan biaya sendiri itu akhirnya dia rampungkan pada 2005. Adang lantas kembali ke Bandung dan mendirikan tiga perusahaan sekaligus. Rupanya, usaha itulah yang membuat roda kehidupannya terjun bebas. ’’Saya sampai pernah tiga minggu tidak pulang. Pokoknya, berantakan sekali,’’ kenangnya.

Namun, roda kehidupan, rupanya, kembali berputar dengan lebih stabil. Berbekal uang Rp 100 ribu, Adang merintis usaha baru membuat alat musik dari bambu. Produksi pertamanya adalah biola ’’aneh’’ yang kemudian terjual Rp 1,5 juta.

Dari situ, dia lantas mengembangkan kreasinya dengan membuat gitar elektrik berbahan bambu. Produk yang satu ini ternyata relatif lebih mudah karena suara yang dihasilkan lebih mengandalkan sistem elektrik.

’’Boleh percaya atau tidak, sampai saat ini saya sendiri tidak bisa bermain musik,’’ katanya, lantas terkekeh.

Kini usaha alat musik bambu Adang berkembang pesat. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta. Adang sudah punya banyak rencana untuk pengembangan unit usaha lain di bawah bendera brand VirageAwie yang berarti hanya bambu. ’’Kunci utamanya ada pada laminasi,’’ jelasnya.

Dari bahan bilah bambu laminasi itu, kata Adang, bisa dibuat aneka macam perabot dan pernak-pernik aksesori. Mulai lantai kayu, hiasan dinding, casing ponsel, hingga frame kacamata. Di ruang workshop itu sudah ada contoh pengeras suara dari bambu untuk ponsel.

’’Kami berencana membikin pabrik di Karawang. Targetnya pada 2018 mulai produksi ke luar,’’ katanya optimistis.

Adang masih punya cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud. Dia terobsesi membuat alat musik lengkap dari bambu untuk kelompok orkestra. ’’Saya sangat ingin bambu yang di banyak tempat tidak punya nilai bisa naik kelas,’’ tandas dia. (*/c5/ari/rie)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR