20 Persen Warga Pindah Tanpa Terpecah

Di Balik Upaya Pembebasan Lahan Warga Kampung Cieunteung

18
YULLY S YULIANTY/JABAR EKSPRES
KEHIDUPAN BARU: Warga saat menandatangani penyerahan sertfikat tanah dan bangunan untuk pembebasan Kampung Cieunteung, kemarin.

Setelah bertahun-tahun terkena banjir luapan Sungai Citarum, akhirnya tanah para korban banjir di Kampung Cieunteung, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah secara bertahap mulai dibebaskan. Mereka pun siap bedol kampung dengan penghidupan baru: tanpa kebanjiran.

Yully S. Yulianti, Baleendah

MIMIK muka Agus Sholehudin, 52, terlihat tak karuan. Antara sedih dan bahagia. Dia menunggu antrean sambil mengapit map merah berisi berkas-berkas penting yang disimpan rapi. Dan selalu menjadi yang utama saat menyelamatkan diri saat banjir tiba: surat-surat rumah.

Agus melirik warga lain yang sudah menyerahkan sertifikat tanahnya. Ada yang langsung pulang, ada juga yang masih sibuk menghitung meski uang tersebut tidak terlihat karena langsung masuk tabungan.

Agus saat itu masih ragu. Lahan 2 tumbak dengan luas bangunan 28 meter yang dimodifikasi dua lantai tersebut jadi dijual atau tidak ke pemerintah. Terlebih, tanah dan rumah itu juga bersejarah, bagi dia. ”Itu warisan dari orangtua. Berat melepasnya,” kata dia kepada Jabar Ekspres, kemarin.

Agus memang menjadi satu dari 268 penerima dana pembebasan tanah Kampung Cieunteung, di Gedung Warakauri, Baleendah, Kabupaten Bandung, kemarin (14/11). Sebagai informasi, Kampung Cieunteung merupakan kawasan titik terendah di wilayah Bandung. Bertahun-tahun kerap dihantui banjir yang sulit surut karena posisinya di sejajar bahkan di bawah Sungai Citarum. Salah satunya, rumah Agus.

Pemerintah pun pontang panting mencari cara menyelesaikan masalah tersebut. Selain kerap mengeruk sungai, pemerintah pun mengeluarkan program pembuatan kolam rentensi. Konsekuensinya, warga harus pindah dari sana.

Pada tahap dua pembebasan lahan ini, Agus menerima Rp 104 juta. Dia akhirnya bisa menerima walau sebenarnya khawatir uang tersebut apakah cukup untuk membeli rumah lagi atau tidak. ”Terlebih rumah itu warisan, tidak boleh habis tanpa terbeli lagi rumah baru,” ucapnya.

Untuk sementara, dia bersama enam anggota keluarganya menginap di Rusunawa. Sambil mencari rumah baru yang terjangkau dari hasil penggantian itu. ”Kalau makin lama, mungkin keburu mahal dan uangnya malah habis,” jelasnya.

Kepala BPN Kabupaten Bandung, Atet Gandjar M mengatakan, melakukan pembebasan lahan tahap kedua wilayah Kampung Cienteung sebanyak 268 bidang dan 268 penerima.

”Ini tahap ke dua. Hari ini (kemarin, Red) yang dibayarkan sabanyak 85 bidang, akan dilanjutkan besok dan Kamis. Dan selanjutnya akan dilaksanakan tahap ke tiga musyawarah pada tanggal 17 November 2017, mudah-mudahan tahun ini bisa tuntas,” papar Atet kepada Jabar Ekspres, kemarin.

Dia pun menjelaskan, total anggaran yang dibayarkan tahap dua ini sebanyak Rp 64.599.000.000. Dengan luasan 2,72 hektar. ”Hari ini akan dibayarkan Rp 20.380.000.000, sisanya akan dibayarkan Rabu dan Kamis. Mudah-mudahan di dalam musyawarah itu semua warga lancar dan cepat dibayar seperti ini. Saya harapkan tahap ke tiga bisa lancar,” ungkapnya.

Camat Baleendah, Cep azis berharap, pembayaran tahap kedua bisa selesai dalam tiga hari. Dengan begitu, tak ada lagi kendala pembebasan lahan karena warga akhirnya berubah pikiran.

Cep Azis menerangkan, pada musyawarah pertama pada 20 Oktober lalu ada yang keberatan saat musyawarah dengan BPN.  ”Kolam retensi yang akan dibangun ini dengan luas tanahnya sebanyak 8 hektar, yang terbagi dalam tiga tahap. Setelah selesai pembebasan yang tahap dua akan dilaksanakan pembebasan tahap ketiga,” urainya.

Di tahap ketiga nanti, lanjut Cep Azis, yang tersisa sebanyak 38 penerima dengan menyerahkan pembebasan lahan sebanyak Rp 27 miliar melalui upresial. ”Kita berharap mereka bisa membeli rumah kembali. Sebab, dari segi harga juga sudah cukup bijak dalam kapasitas penentuan harga, tidak sepihak,” terangnya.

Sementara itu, mantan ketua Rw 20, Jaja mengatakan, setelah pembebasan lahan ini, pihaknya akan melakukan bedol kampung. Sehingga dirinya dan warga Cieunteung bisa bersatu kembali. ”Rencana ini dilakukan karena ada sebagian orang yang ingin berkumpul kembali, kurang lebih ada 40 kepala keluarga yang ingin kumpul seperti di Kampung Cienteung,” ucapnya.

Lahan untuk bedol kampung tersebut sudah ada sebanyak 317 tumbak, untuk dibagi per keluarga sebanyak 5 tumbak. ”Yang ikut dalam bedol kampung hanya 20 persen dari keseluruhan warga Cienteung. Ini sifatnya bukan memaksakan, tapi atas kesadaran masing-masing,” urainya. (*/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here