Kontribusi Buah dan Sayur Jabar Besar

LIHAT: Seorang petani sayuran tengah memperlihatkan hasil tanaman sayur yang sudah bisa dipasarkan.

Kembangkan Manggis dan Pisang

GATSU– Produktivitas buah dan sayur di Jawa Barat relatif surplus dan dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Jabar. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Ferry Sofwan mengatakan kontribusi buah dan sayur Jabar terhadap produk nasional mencapai 14,10 persen untuk seluruh produk jenis buah.

LIHAT: Seorang petani sayuran tengah memperlihatkan hasil tanaman sayur yang sudah bisa dipasarkan.
LIHAT: Seorang petani sayuran tengah memperlihatkan hasil tanaman sayur yang sudah bisa dipasarkan.

“Produk yang paling potensial untuk terus dikembangkan yakni buah manggis. Selain buahnya yang bisa dikonsumsi, kulit manggis juga bisa digunakan sebagai obat kecantikan. Ini yang akan kami dorong agar produktivitas manggis terus meningkat,” ujar Ferry kepada Bandung Ekspres disela Festival Keanekaeagaman Makanan Berbahan Baku Lokal di Trans Studio Mall, Jalan Gatot Soebroto belum lama ini.

Ferry menuturkan kontribusi manggis Jabar untuk nasional mencapai 41,75 persen. Sedangkan produk lainnya yang berpotensi besar yakni pisang. Menurutnya, produsi pisang secara nasional mencapai lima juta ton. Sedangkan Jabar, mampu berkontribusi sebanyak 20 persen.

“Kontribusi produksi pisang Jabar untuk nasional sudah 20 persen. Jika produksi pisang nasional lima juta ton, Jabar berarti sudah bisa memproduksi satu juta ton pisang per tahun,” ujarnya.

Jenis buah lainnya yang berkontribusi besar terhadap produksi buah nasional yakni Jambu biji sekitar 31,66 persen dan Aplukat sekitar 30,52 persen. Sedangkan produk sayuran yang paling banyak berkontribusi yakni jamur dan kol.

Lebih lanjut Ferry menuturkan buah dan sayur merupakan sumber vitamin dan mineral bagi tumbuh kembang serta mendukung daya tahan tubuh. Menurutnya, mengkonsumsi buah dan sayur yang memadai penting bagi segala usia karena merupakan sumber zat pengatur. Namun hingga saat ini, konsumsi buah dan syur secara umum di Idonesia masih dibawah rekomendasi Lembaga Pangan Dunia atau FAO.

“FAO merekomendasikan setidaknya konsumsi buah dan sayur 65,75 kilogram perkapita pertahun. Sementara tingkat konsumsi nasional baru mencapai 40 kilogram perkapita pertahun,” ujarnya.

Untuk mendorong tingkat konsumsi buah dan sayur, dia berupaya untuk membina pelaku usaha bidang makanan olahan agar bisa mengolah buah dan sayur secara tepat. Menurutnya, buah dan syur tidak harus dikonsumsi secara segar, tetapi bisa dibuat olahan sehingga buah dan dan sayur bisa bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama. (fik)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR