Investor Asing Lirik Jatim

TUNJUKKAN: Seorang petugas sedang menunjukkan hasil kerajinan perhiasan. Daerah Tulung Agung menjadi salah satu sentra industri di Jawa Timur yang juga menjadi incaran asing.

SURABAYA – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur (Jatim) yang tinggi memungkinkan banyak investor untuk menanamkan modalnya. Salah satu perusahaan investasi tersebut yakni Temasek.

TUNJUKKAN: Seorang petugas sedang menunjukkan hasil kerajinan perhiasan. Daerah Tulung Agung menjadi salah satu sentra industri di Jawa Timur yang juga menjadi incaran asing.
TUNJUKKAN: Seorang petugas sedang menunjukkan hasil kerajinan perhiasan. Daerah Tulung Agung
menjadi salah satu sentra industri di Jawa Timur yang juga menjadi incaran asing.

Associate Director and Strategic Relations Temasek Law Heng Dean mengungkapkan bahwa perusahaan asal negeri singa tersebut berniat untuk melebarkan gurita bisnisnya di Jatim khususnya di Surabaya. ’’Temasek merupakan perusahaan murni swasta yang kini sedang mengembangkan bisnisnya di beberapa wilayah di seluruh dunia, salah satunya yakni Indonesia. Jatim sendiri dipilih khususnya Surabaya karena potensi bisnis yang sangat cerah,’’ katanya di sela acara gathering dengan kalangan pengusaha di Surabaya, Kamis (19/6).

Law mengungkapkan bahwa hingga kini sebanyak 41 persen fokus bisnis Temasek masih terpusat di kawasan Asia, 30 persen di Singapura, 25 persen di Amerika Utara, Eropa, Australia, dan New Zealand, serta 4 persen sisanya di Amerika Latin, Afrika, dan beberapa kawasan Asia dan Timur Tengah.

Dia mengungkapkan bahwa sasaran pengembangan bisnis Temasek masih berpusat pada beberapa perusahaan yang dianggap sedang berkembang dan sesuai dengan portfolio Temasek. Hingga akhir Maret tahun lalu, Temasek mencatat total aset sebesar SGD 215 miliar. Perolehan tersebut berasal dari beberapa sektor perusahaan seperti finansial, telekomunikasi, media dan teknologi, transportasi dan industri, life science, konsumer dan real estat, energi dan resources, dan masih banyak lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, pengusaha juga mengeluhkan melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus angka Rp 12 ribu per dolar AS. Hal ini mulai mencemaskan beberapa kalangan, salah satunya yakni pengusaha makanan.

Direktur Utama Boga Group Steven Johnson Tjan mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah berdampak pada keseluruhan operasional seluruh outlet yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. ’’Efeknya bisa sangat berpengaruh pada cost untuk listrik dan gas,’’ katanya.

Dia mengungkapkan bahwa tiap tahunnya pengeluaran terbesar untuk listrik dan gas merupakan sektor yang selalu mengalami kenaikan tiap tahun. Selain itu, pelemahan rupiah juga berpengaruh pada bahan pokok yang selama ini banyak di impor dari beberapa negara seperti Jepang, Norwegia, Singapura, dan Thailand. Guna mensiasati hal tersebut, mau tak mau akan dilakukan efisiensi pada keseluruhan operasional di tiap outlet.

Dia mengungkapkan bahwa hal ini merupakan permasalahan yang dilematis. Di sisi lain efisiensi harus dilakukan, namun perusahaan tidak bisa serta merta menaikkan harga produknya. Sebab harga yang digunakan saat ini merupakan harga maksimal.

’’Bahkan dulu komposisi bahan baku impor 80 persen, sisanya yang 20 persen berasal dari bahan baku lokal. Sekarang 60 persen untuk impor, dan 40 dari lokal,’’ katanya. Hal ini selain disebabkan oleh pelemahan rupiah, juga disebabkan oleh daya saing produsen lokal yang kini dirasa telah cukup memenuhi standar internasional. (dee)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here