NUUR+ Fest: Gerakan Anak Muda Jabar Hadirkan Listrik Bersih di Masjid

anak muda Jawa Barat
MERAWAT BUDAYA: Penari cilik tampil memukau dalam rangkaian NUUR+ Fest di Bandung-ruang kolaborasi anak muda Jawa Barat dalam menggalang gerakan energi bersih dan solarisasi masjid.
0 Komentar

BANDUNG – Generasi muda Jawa Barat mengambil langkah konkret dalam transisi energi bersih. Melalui ajang NUUR+ Fest, mereka menjadikan rumah ibadah sebagai pusat gerakan iklim. Inisiatif akar rumput ini sekaligus menjadi dukungan nyata bagi target besar solarisasi masjid di Indonesia menuju target 1 Gigawatt (GW) energi surya.

Berangkat dari semangat tersebut, Ruang Eskalasi bersama RUTE Berkeadilan Jawa Barat dan konsorsium NUUR+ menggelar festival bertajuk “Let There Be Nuur” di Kota Bandung. Mengawinkan literasi keberlanjutan dan spiritualitas, ajang ini difokuskan untuk menghimpun dukungan pengadaan panel surya di masjid-masjid wilayah Jawa Barat.

COO Ruang Eskalasi, Erland Fabian, menegaskan bahwa anak muda adalah penentu keberhasilan transisi energi berbasis komunitas. “Krisis iklim bukan sekadar diskusi global di atas kertas. Ini realitas yang berdampak langsung pada ruang hidup kita,” ujarnya.

Baca Juga:Kawal Musda XI Golkar Kota Cirebon, Daniel Mutaqien Targetkan 8 Kursi dan Tepis Isu MunaslubMerawat Rumah Bersama, Golkar Jabar Tegaskan Soliditas di Bawah Bahlil, Sebut Isu Munaslub Hoaks

Melalui NUUR+ Fest, pihaknya ingin menjembatani kepedulian anak muda, nilai spiritual, dan aksi nyata. “Kami menempatkan masjid sebagai katalis. Setiap dukungan dikonversi menjadi kemandirian listrik bersih yang berdampak jangka panjang bagi jemaah dan lingkungan,” imbuh Erland.

Rangkaian acara dibuka dengan diskusi inspiratif bertema “Our Earth, Our Responsibility”. Direktur Wakaf Al Azhar, Rayan Asa Luminaries, menyoroti pentingnya memperluas makna wakaf agar relevan dengan krisis iklim hari ini.

“Ziswaf memang bisa meringankan beban sesaat, tapi bantuan yang bersifat konsumtif tidak menyelesaikan masalah secara mendasar,” tegas Rayan.

Ia menjelaskan, riset Purpose menunjukkan bahwa pesan lingkungan lebih mudah diterima masyarakat lewat mimbar masjid, baik melalui khotbah Jumat maupun pengajian. Karena itu, gerakan solarisasi dimulai dari masjid karena tempat inilah yang paling dekat dengan aktivitas umat sehari-hari.

Sementara itu, Koordinator ENTER Nusantara sekaligus Tim Sedekah Energi MOSAIC, Reka Maharwati, membedah ketergantungan energi nasional yang masih didominasi bahan bakar fosil. “Lebih dari 60 persen pasokan listrik Indonesia masih berasal dari PLTU batu bara,” ungkap Reka.

Meski opsi energi bersih melimpah, tantangan finansial dan ketergantungan fosil masih menjadi batu sandungan. Di sisi lain, capaian bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional masih berkisar di angka 12–13 persen, jauh dari target pemerintah.

0 Komentar