Kepala DTPH Jawa Barat Dadan Hidayat mengatakan, “Upaya penyelamatan pertanaman yang sudah ada dilakukan dengan berbagai aksi, seperti pemanfaatan sumur, pompa, dan pengaturan pembagian air secara bergiliran,” sebagaimana diberitakan Bisnis Indonesia pada 19 Oktober 2026. DTPH merujuk hasil Kerangka Sampel Area (KSA) untuk menyebut proyeksi produksi padi Jawa Barat pada Januari–Oktober 2026 sekitar 8,57 juta ton GKG, dibandingkan 8,83 juta ton pada periode sama 2025. Angka Januari–Oktober 2026 itu masih berupa proyeksi, sehingga tidak dapat disamakan dengan realisasi final setahun penuh.
Di hilir, Perum BULOG Kantor Wilayah Jawa Barat terus menyerap hasil panen petani untuk mendukung Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Berdasarkan pembaruan posisi 22 Oktober 2026 yang diberitakan pada 24 Oktober, akumulasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 694.947 ton setara beras. Jumlah itu melampaui target tahunan 694.432 ton, atau sekitar 100,07 persen. Sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026, Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen di tingkat petani dipertahankan Rp6.500 per kilogram. Angka pengadaan BULOG merupakan bagian dari produksi yang diserap pemerintah, bukan keseluruhan produksi padi provinsi.
Pemimpin Wilayah Perum BULOG Jawa Barat Nurman Susilo menegaskan penyerapan tetap berlanjut meski target pengadaan tercapai. “Meski target telah tercapai, kami akan terus menyerap gabah petani hingga akhir Desember dan melanjutkan komitmen ini pada tahun-tahun berikutnya, khususnya untuk mendukung petani di Jawa Barat,” ujarnya, seperti dilaporkan ANTARA pada 24 Oktober 2026.
Baca Juga:Liburan 2 Hari 1 Malam di Garut, Ini Rekomendasi Wisata Alam, Kuliner, hingga Berburu Oleh-OlehMusik Pop Bertemu Sentuhan Lokal, Kolaborasi no na di Shopee 11.11 Big Sale Bawa Kreativitas Penuh Warna
Pada posisi 22 Oktober 2026, stok beras yang dikuasai BULOG Jawa Barat tercatat sekitar 623,9 ribu ton, yang terdiri atas sekitar 623,8 ribu ton beras penugasan pemerintah dan 107 ton beras komersial. Stok berada di delapan kantor cabang, antara lain Indramayu sekitar 192,7 ribu ton, Cirebon 176,7 ribu ton, Karawang 99,7 ribu ton, Subang 59,1 ribu ton, dan Cianjur 24,8 ribu ton. Stok tersebut adalah persediaan pada satu tanggal, bukan angka pengadaan kumulatif; perubahan stok juga dipengaruhi penyaluran dan pergerakan beras antargudang.
Transformasi pertanian juga memperoleh dukungan melalui pemanfaatan teknologi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam siaran pers resmi 6 Oktober 2026 menyatakan, “IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat.” Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penerapan teknologi berdasarkan kebutuhan riil petani, mulai dari pengukuran kondisi lahan hingga efisiensi penggunaan pupuk. Contoh implementasi yang dipublikasikan kementerian berasal dari daerah lain, sehingga tidak digunakan sebagai klaim penyebab peningkatan produksi padi Jawa Barat pada 2025.
