Ekonomi Digital Jadi Strategi Pemerintah Kejar Pertumbuhan 6 Persen pada 2027

Ekonomi Digital Jadi Strategi Pemerintah Kejar Pertumbuhan 6 Persen pada 2027
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

Di sektor perdagangan, ekonomi digital juga didorong melalui pertumbuhan perdagangan elektronik atau e-commerce. Nilai e-commerce Indonesia diproyeksikan meningkat lebih dari 14 persen menjadi 71 miliar dolar AS, yang memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara.

Pemerintah turut menargetkan nilai transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) mencapai Rp40 triliun pada akhir 2026. Target tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan realisasi Rp36,4 triliun pada 2025.

Selain memperkuat pasar domestik, pemerintah mendorong integrasi ekonomi digital di tingkat regional melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Perundingan perjanjian tersebut telah diselesaikan dan penandatanganannya ditargetkan berlangsung bersamaan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada November 2026 di Filipina.

Baca Juga:Swasembada  Beras Tingkatkan Kesejahteraan Petani? Dpc Partai Demokrat Kota Bandung Gelar Pendidikan Politik Dan Pelatihan Komunikasi, Perkuat Kualitas Kader

Ratifikasi ASEAN DEFA ditargetkan rampung dalam waktu 180 hari setelah penandatanganan. Implementasi perjanjian ini diharapkan memperluas perdagangan digital lintas negara dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha di kawasan.

Kajian Boston Consulting Group memperkirakan nilai ekonomi digital ASEAN berpotensi meningkat dari 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS pada 2030 melalui implementasi DEFA.

Di sisi lain, peningkatan aktivitas digital perlu diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat. Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 12,99 miliar transaksi pada Triwulan III 2025, tumbuh 38,08 persen secara tahunan.

Untuk mengantisipasi risiko keamanan siber di masa depan, pemerintah menyiapkan penerapan kriptografi tahan kuantum untuk menghadapi ancaman Harvest Now, Decrypt Later (HNDL), yakni praktik pencurian data terenkripsi untuk kemudian dibuka menggunakan teknologi komputasi kuantum ketika kemampuan tersebut tersedia.

Upaya mitigasi dilakukan melalui penerapan Post-Quantum Cryptography (PQC) serta pembentukan Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Sementara itu, kerja sama internasional di bidang AI melalui World AI Collaboration Organization (WAICO) diperkirakan berpotensi menarik investasi sebesar 8–12 miliar dolar AS selama periode 2026–2030.

Airlangga menegaskan, pengembangan ekonomi digital tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai transaksi dan investasi, tetapi juga harus memberikan dampak terhadap produktivitas dan pemerataan manfaat ekonomi.

0 Komentar