“Semoga itu program MBG bisa diperbaiki dan dilanjutkan,” katanya.
Harapan serupa disampaikan As’ad Arif Nurul Munji, siswa kelas 6 SD Negeri Pasusukan yang juga terdampak.
“Tetap dilanjutkan, diperbaiki,” ujarnya.
Berdasarkan data SD Negeri Pasusukan, sebanyak 26 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 terdampak. Selain siswa, terdapat tujuh orang terdampak, termasuk kepala sekolah. Para korban mulai merasakan gejala secara bervariasi sejak Rabu (23/9/2026).
Baca Juga:Dorong Ketahanan Energi Nasional, SAKA Tajak Sumur Eksplorasi SM-1 di WK PekawaiJaga Keberlangsungan Pembangunan, Bupati dan DPRD Purwakarta Sahkan Raperda Perubahan APBD 2026
Kepala SD Negeri Pasusukan Maryana mengatakan, gejala tidak muncul secara bersamaan setelah makanan MBG dikonsumsi. Makanan tiba sekitar pukul 08.30 dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00 saat jam istirahat. Namun, keluhan baru muncul beberapa jam kemudian.
Menurut Maryana, waktu munculnya gejala pada siswa juga berbeda-beda. Ada yang mulai merasakan keluhan pada malam hari dan ada pula yang baru mengalami gejala pada keesokan harinya.
“Kalau untuk anak-anak beragam dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.
Maryana mengatakan, 26 siswa yang terdampak telah pulang ke rumah. Sementara satu guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah mual dan diare.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi perhatian agar pelaksanaan MBG ke depan semakin aman bagi anak-anak.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Bawang Ida Suryani, mengatakan bahwa penanganan di puskesmas yang dipimpin dimulai pada Rabu saat pasien berdatangan. Total ada 597 orang dengan rincian 32 rawat jalan di puskesmas, 384 orang rawat jalan, dan 182 orang dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, dan Puskesmas Rawat Inap lainnya di Batang. Rentang usia korban mulai dari balita sampai lansia.
“Hari ini yang masih dirawat inap di sini ada 8 orang dan kondisinya sudah cukup membaik,” kata dia.
Baca Juga:Jadi Ajang Pelestarian Budaya, Festival Pencak Silat CUP IV 2026 Digelar di Kebun Raya Bogor dan Diikuti 321 PDi Forum ITMO 2027, Kebun Raya Dorong Pengembangan Experience Tourism BerkelanjutanÂ
Ia menjelaskan, keluhan yang diderita pasien saat tiba di Puskesmas Bawang adalah mual, sakit perut, muntah, diare, dan panas-dingin. Dari hasil pemeriksaan belum diketahui secara pasti terkait penyebabnya, hasil laboratorium baru akan keluar setelah 20 hari.
Ida menambahkan, peristiwa keracunan tersebut menjadi pelajaran bersama sehingga langkah antisipasi akan terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang. Tentunya dimulai dari pihak SPPG yang memiliki wewenang dalam penyediaan makanan untun MBG.
