JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Cimahi terus memperkuat upaya pelestarian budaya Sunda, khususnya Aksara Sunda, di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Pelestarian Aksara Sunda di Kota Cimahi dinilai penting agar identitas budaya daerah tidak perlahan tergerus zaman.
Salah satu langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Cimahi adalah menghadirkan Aksara Sunda pada sejumlah nama jalan dan gedung yang berada di wilayah Kota Cimahi. Upaya tersebut menjadi bagian dari cara pemerintah mengenalkan sekaligus menjaga keberadaan budaya Sunda di ruang publik.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, penggunaan Aksara Sunda pada nama jalan dan gedung merupakan salah satu langkah konkret untuk mempertahankan budaya daerah. Menurutnya, keberadaan Aksara Sunda di Kota Cimahi perlu terus diperluas agar masyarakat semakin familiar dengan warisan budaya tersebut.
Baca Juga:Sampah Jadi Cuan, Cimahi Siap Sulap Limbah Jadi Peluang Ekonomi Lewat Pelatihan Green JobsRing of Fire Kembali “Hidup”, Wawalkot Cimahi Dorong Bulan Dana PMI Lebih Berdampak
“Salah satu langkah yang sudah kita lakukan untuk mempertahankan budaya di Kota Cimahi yaitu menamai jalan dan nama-nama gedung memakai Aksara Sunda,” ungkap Ngatiyana, Senin (14/9/2026).
Ngatiyana menegaskan, pemerintah akan mendorong nama-nama jalan di Kota Cimahi yang belum menggunakan Aksara Sunda agar turut menampilkan tulisan tersebut. Langkah serupa juga akan diterapkan pada gedung-gedung yang berada di wilayah Kota Cimahi.
“Bagi yang belum, nanti kita akan jadikan dengan tulisan Sunda agar budaya, terutama Aksara Sunda, tetap lestari,” katanya.
Menurut Ngatiyana, pelestarian budaya Sunda, termasuk Aksara Sunda, tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Kecintaan terhadap budaya daerah perlu diwujudkan melalui langkah nyata dan dilakukan secara berkelanjutan di Kota Cimahi.
Ngatiyana juga mengingatkan pentingnya mengenalkan Aksara Sunda dan budaya Sunda kepada generasi muda. Sebab, anak-anak menjadi salah satu pihak yang akan menentukan apakah budaya dan sejarah daerah tetap dikenal atau justru perlahan ditinggalkan.
“Budaya ini bagaimana ke depan jangan sampai budaya ini punah. Bagaimana dengan anak-anak kita kalau tidak tahu budaya, tidak tahu sejarah. Saya khawatir ke sana,” tegas Ngatiyana.
