Badan Geologi: Enam Gunung Api Indonesia Jadi Prioritas Pemantauan, Termasuk Anak Krakatau

Dok. Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM, Lana Saria saat menunjukan beberapa peta lokasi sebaran gunung api
Dok. Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM, Lana Saria saat menunjukan beberapa peta lokasi sebaran gunung api aktif di Indonesia. Foto. Sandi Nugraha.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan enam gunung api di Indonesia saat ini menjadi perhatian khusus karena masih menunjukkan aktivitas dan memerlukan pemantauan intensif.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan lima gunung api selain Anak Krakatau yang menjadi prioritas pemantauan tersebut yakni Gunung Semeru, Ili Lewotolok, Lewotobi Laki-laki, Sinabung, dan Ibu di Maluku Utara.

“Gunung yang sedang aktif saat ini (selain Anak Krakatau) ada Gunung Semeru, Ili Lewotolok, Lewotobi Laki-laki, Sinabung, dan Ibu di Maluku Utara. Ini memerlukan perhatian khusus dan menjadi prioritas kami untuk melihat secara intensif,” ujar Lana, Rabu (9/9).

Baca Juga:Pameran “Setanah Tak Diam” di Bandung Ajak Publik Memahami Perubahan Lingkungan dan Risiko BencanaPenerbangan Kembali Dibuka, Pemprov Jateng Siap Sambut Kedatangan Kafilah MTQ Nasional 2026

Meski sama-sama menjadi perhatian, Lana menegaskan aktivitas keenam gunung api tersebut tidak saling berkaitan maupun memicu satu sama lain.

Menurutnya, setiap gunung api memiliki karakteristik dan kondisi geologi masing-masing sehingga aktivitas vulkaniknya perlu dipantau berdasarkan kondisi setiap gunung.

“Namun kejadian di enam gunung ini bukan berarti saling berhubungan atau saling memicu. Masing-masing memiliki karakter sendiri,” katanya.

Terkait aktivitas Gunung Api Anak Krakatau, Lana menyebut erupsi gunung tersebut telah berhenti sejak 6 September 2026 sekitar pukul 00.04 WIB.

Hingga Selasa (8/9), kondisi tersebut masih dinyatakan berhenti. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampak sisa abu vulkanik yang masih berpotensi berada di sejumlah wilayah.

Lana mengimbau masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah karena pekerjaan atau keperluan lain, masyarakat disarankan menggunakan alat pelindung diri seperti masker, helm, dan kacamata.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan cara membersihkan abu vulkanik. Abu sebaiknya terlebih dahulu disiram dengan air sebelum disapu agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Baca Juga:Jadi Lokus Studi Lemhannas RI, Jawa Tengah Dinilai Konsisten Kembangkan EBTErupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Pemprov Jateng Siapkan Jalur Alternatif Kafilah MTQ

“Kalau masih ada dampak abu vulkanik yang tersisa, lebih baik aktivitas di dalam ruangan. Bila harus keluar karena pekerjaan, gunakan pelindung diri seperti masker, helm, dan kacamata,” ujarnya.

“Membersihkan abu vulkanik tidak hanya disapu, tetapi disiram dulu baru disapu sehingga tidak menyebar. Yang paling penting, kewaspadaan jangan hanya saat erupsi terjadi, tetapi harus tetap ada sesuai mitigasi yang kita informasikan,” pungkas Lana.

0 Komentar