Situasi tersebut membuat tim tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukan pengulangan. Setiap momen harus dipersiapkan secara matang karena kesalahan kecil bisa membuat adegan tidak dapat kembali direkam dalam kondisi yang sama.
Produser Operasi Pesta Copet, Dipa Andika, mengatakan persiapan untuk mengambil gambar di Pestapora bahkan telah dilakukan sejak gelaran Pestapora 2024. Sementara proses syuting dilakukan saat Pestapora 2025.
“Syutingnya saat Pestapora 2025, tapi kami sudah persiapan sejak Pestapora 2024. Kami melihat panggung mana yang memungkinkan untuk menjadi bagian dari set syuting. Jadi menurut kami syuting di Pestapora adalah yang tersulit, karena itu adalah adegan yang tidak bisa mengulang,” ungkap Dipa Andika.
Baca Juga:Peringati HUT ke-20, Mulia Boga Raya Pererat Kemitraan Strategis dengan Bel S.A.Jelajahi Kuliner Legendaris Bandung dalam Satu Destinasi di Festival Kuliner Bandung
Bagi Khemod, salah satu adegan yang paling menguras persiapan adalah ketika para pemain harus naik ke atas panggung. Adegan tersebut harus direkam dalam waktu yang sangat terbatas sehingga tidak memberikan ruang untuk melakukan kesalahan.
“Salah satu yang paling sulit dan menjadi tantangan adalah adegan terakhir di film ini, saat naik ke panggung, dengan waktu syuting yang pendek,” ujar sutradara Edy Khemod.
Tantangan lainnya muncul ketika Khemod harus menggarap adegan saat geng copet melakukan latihan sebelum menjalankan aksinya di Pestapora. Salah satu adegan tersebut menampilkan aksi wall of death yang melibatkan ratusan orang.
“Tantangan lainnya adalah ketika geng copet ini mereka ‘latihan nyopet’ dulu di konser, sebelum datang ke Pestapora. Jadi kami membuat adegan wall of death, dan itu harus diulang berkali-kali, dengan 500 orang yang terlibat,” tambah Khemod.
Gambarkan Wajah Generasi Musik Masa Kini
Tidak hanya menjadi film debut penyutradaraan, Operasi Pesta Copet bagi Khemod juga memiliki makna tersendiri dalam melihat perkembangan industri musik dan budaya festival di Indonesia.
Menurutnya, sebuah film yang mengambil latar dunia musik juga dapat menjadi penanda terhadap zaman dan generasi yang sedang berkembang.
Jika era 2000-an identik dengan semangat DIY atau Do It Yourself, yang ditandai dengan independensi musisi dan para seniman, kondisi saat ini menurut Khemod memiliki penanda yang berbeda.
