Melalui RPL, pengalaman dan pembelajaran sebelumnya dapat diperhitungkan sesuai ketentuan akademik. Mahasiswa pekerja dalam skema tertentu dapat menempuh pendidikan lebih cepat, bergantung pada hasil pengakuan dan persyaratan yang berlaku.
Bagi USB, fleksibilitas menjadi penting karena kebutuhan pendidikan tinggi kini semakin beragam. Dunia kerja tak lagi hanya menilai ijazah, melainkan kompetensi, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan baru.
Ricky menyebut salah satu ukuran keberhasilan universitas adalah dampak dan kepercayaan masyarakat. Akreditasi, prestasi akademik, publikasi, kerja sama, dan fasilitas memang penting. Namun reputasi perguruan tinggi pada akhirnya dibangun dari pengalaman nyata mahasiswa, orang tua, alumni, dunia kerja, pemerintah, dan masyarakat. “Kalau universitas itu dipercaya masyarakat, berarti kita sukses,” ujar Ricky.
Baca Juga:Banteng Jabar FC Juara Soekarno Cup 2026, 2.000 Suporter Jabar Solid dan Tertib Kawal KemenanganTak Perlu Antre Lama, Klaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Lewat Antrean Online
Kepercayaan, katanya, menjadi modal yang harus terus dipelihara melalui kualitas pendidikan dan kontribusi nyata.
Rektor USB YPKP, Dr. H. Didin Saepudin, S.E., M.Si., mengatakan capaian dua dekade tak terlepas dari dukungan yayasan, pemerintah, mitra swasta, hingga mitra luar negeri. Akreditasi Unggul merupakan hasil kerja bersama sekaligus modal menghadapi tantangan berikutnya.“Unggul ini tidak menjadi akhir dari sebuah capaian,” kata Didin.
USB YPKP kini mengarahkan perhatian pada internasionalisasi, penguatan hubungan dengan dunia industri dan dunia usaha, serta peningkatan kepercayaan seluruh pemangku kepentingan.
Internasionalisasi, menurutnya, tidak cukup hanya lewat kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri. Diperlukan juga peningkatan kualitas akademik, kompetensi lulusan, kemampuan bahasa, riset, jejaring, dan sistem pembelajaran agar mampu bersaing di lingkungan global.
Peringatan dua dekade USB YPKP mengusung tema “2 Decades of Unity for Excellence and Impact.” Bagi Didin, kebersamaan menjadi kunci perjalanan USB. Yayasan, rektorat, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, mitra industri, pemerintah, dan orang tua merupakan bagian dari satu ekosistem pendidikan.
Kebersamaan itu diharapkan menjadi fondasi kepemimpinan dan inovasi ke depan. Dua puluh tahun pertama USB YPKP adalah perjalanan transformasi dari lembaga yang berakar di bidang keuangan dan perbankan menjadi universitas dengan keilmuan yang lebih luas. Kini tantangannya berbeda. Kecerdasan buatan, pembelajaran digital, perubahan kebutuhan tenaga kerja, persaingan perguruan tinggi, dan tuntutan internasionalisasi memaksa USB bergerak lebih cepat.
