Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Replast Lab bekerja sama dengan sejumlah kampus, startup, hingga masyarakat umum.
Dafa menyebutkan, pihaknya menerima pasokan sampah plastik dari berbagai institusi pendidikan seperti Institut Teknologi Nasional Bandung, Telkom University, Universitas Padjadjaran, hingga Universitas Indonesia.
Selain itu, para pengikut media sosial Replast Lab juga turut berkontribusi dengan menyumbangkan sampah plastik yang telah dipilah.
Baca Juga:Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Salurkan 8.000 Liter Air Bersih dan 100 Paket SembakoGagal Live Tawuran di Medsos, 3 Remaja Ditangkap Polisi di Parung Bogor
“Alhamdulillah, dari sini kami juga bisa mendapatkan penghasilan,” ujarnya.
Beragam produk berhasil diciptakan Replast Lab, mulai dari furnitur hingga aksesori.
Untuk produk berukuran besar, mereka memproduksi meja, lemari, kursi, plakat, medali, hingga kotak penyimpanan.
Sementara untuk kategori aksesori, tersedia gelang, anting, kalung, dan gantungan kunci.
Produk-produk tersebut dipasarkan secara daring melalui TikTok Shop dan Shopee, serta secara luring di sejumlah lokasi di Bandung.
Beberapa titik penjualan offline di antaranya Daft Coffee, Jaga Bumi Ecomart di kawasan Cihampelas, serta Hotel Janevalla.
Harga produk aksesori dibanderol mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.
Baca Juga:Suku Bunga Tinggi Gerus Minat Investasi Emas, Harga Acuan Ekspor TerkoreksiUdang Windu Jadi Penggerak Ekspor Perikanan di Indonesia, Tembus Rp173 Miliar dalam 5 Bulan
“Pasar kami saat ini masih di Indonesia. Pengiriman paling jauh sejauh ini sampai Aceh,” kata Dafa.
Di tengah persoalan darurat sampah yang masih dihadapi Bandung, Dafa menilai solusi utama bukan hanya mendaur ulang, melainkan membangun sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Ia berharap tempat pembuangan sementara (TPS) dapat menerapkan sistem pemilahan berdasarkan jenis material.
“Kalau sampah terus dicampur, ujung-ujungnya tidak bisa dimanfaatkan lagi karena orang akan kesulitan memilahnya,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mendorong agar edukasi pengelolaan sampah masuk ke lingkungan sekolah melalui workshop maupun mata pelajaran khusus.
“Saya berharap setiap sekolah punya edukasi soal persampahan, supaya anak-anak terbiasa memilah sampah sejak dini,” katanya.
Menurutnya, produk hasil daur ulang plastik juga berpotensi dimanfaatkan sebagai fasilitas publik, seperti kursi taman atau elemen dekoratif di ruang terbuka kota.
“Plastik itu bisa bertahan ratusan tahun. Kalau diolah dengan baik, bisa menjadi produk yang bermanfaat dan tahan lama,” ucapnya.
