Siapa sangka, menurut Dr. Ryan Sultan, profesor psikiatri klinis dari Columbia University, kenyamanan Bed Rotting ini bisa menjadi bumerang jika dilakukan secara berlebihan yakni lebih dari satu atau dua hari, kondisi tersebut patut diwaspadai.
“Jika bed rotting menjadi perilaku yang biasa atau habituasi, hal itu berpotensi menjadi tanda depresi atau masalah kesehatan mental lainnya,” tegas Dr Sultan.
Masalah lain muncul terkait kualitas istirahat itu sendiri. Dr Anne Marie Morse, juru bicara AASM, mengingatkan bahwa meskipun tren ini sedang viral, fungsi utama tempat tidur tetaplah untuk tidur. Penggunaan kasur untuk aktivitas terjaga dapat mengaburkan memori otak.
Baca Juga:Tepati Janji, Bupati Bandung Terima PSU TCI: Pengembang Wajib Taat AturanEks Finalis Putri Indonesia Ditangkap Karena Lakukan Praktek Facelift Ilegal, Korban Alami Cacat Permanen
Courtney DeAngelis menjelaskan bahwa otak manusia perlu mengasosiasikan tempat tidur hanya untuk tidur dan keintiman. Jika kita terbiasa terjaga di sana, otak akan bingung dan puncaknya adalah gangguan tidur atau insomnia.
Hollingshead juga menyoroti bahaya isolasi sosial yang mungkin terjadi. Ia mencatat bahwa apa yang awalnya dimulai sebagai perawatan diri (self-care) bisa berubah menjadi lingkaran setan.
“Bed rotting bisa dimulai sebagai upaya perawatan diri untuk beristirahat, tetapi kemudian berubah menjadi berkurangnya aktivitas yang menyenangkan, lebih banyak waktu di media sosial, lebih banyak masalah tidur, isolasi sosial, dan akhirnya berujung pada depresi yang lebih berat,” tambahnya.
