JABAR EKSPRES – Ribuan hektare sawah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terancam kekeringan akibat minimnya pasokan air.
Kondisi ini terutama terjadi pada lahan pertanian yang masih bergantung pada curah hujan. Keterbatasan jaringan irigasi pun membuat sebagian besar sawah di wilayah tersebut berada dalam posisi rentan saat musim kemarau.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bandung Barat, Lukmanul Hakim, menjelaskan bahwa dari total 18.093 hektare lahan baku sawah, hanya sebagian kecil yang memiliki akses irigasi. Sementara mayoritas lainnya merupakan sawah tadah hujan.
Baca Juga:Jembatan Darurat Sungai Cigoha Kembali Ambruk, Warga Tanjungsari Terpaksa Putar JauhLong Weekend May Day 2026, Wisata Murah di Tasikmalaya Diserbu Warga
“Lahan yang memiliki sistem irigasi jumlahnya masih terbatas, sehingga sebagian besar sawah sangat bergantung pada hujan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).
Ia menyebut, sekitar 14.475 hektare lahan berpotensi terdampak kekeringan, sedangkan hanya sekitar 3.618 hektare yang relatif lebih aman karena didukung jaringan irigasi.
Situasi ini menjadi tantangan bagi Bandung Barat yang selama ini menjadi salah satu daerah penyumbang produksi beras. Pada 2025, produksi padi tercatat mencapai 274.221 ton atau setara 147.424 ton beras.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah daerah mendorong petani melakukan penyesuaian pola tanam serta memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.
“Petani kami arahkan menggunakan varietas yang lebih adaptif terhadap kekeringan serta mengatur waktu tanam agar tidak masuk fase kritis saat air terbatas,” katanya.
Selain itu, teknik budidaya hemat air seperti penggunaan mulsa juga mulai diterapkan guna menjaga kelembaban tanah. Di wilayah rawan, petani bahkan dianjurkan mengganti tanaman padi dengan komoditas palawija yang membutuhkan air lebih sedikit.
Pendampingan di lapangan terus diperkuat melalui peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), termasuk pemetaan wilayah rawan kekeringan serta penyebaran informasi prakiraan cuaca.
Baca Juga: Terowongan Tugu Pancakarsa Sentul Terendam Banjir, Drainase Tersumbat Sampah Jadi PemicuMenkop Siapkan Skema Baru, Merek Kolektif UMKM Bisa Jadi Jaminan Kredit Bank
“Sebagai langkah mitigasi, kami juga mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen,” katanya.
Di sisi lain, lanjut Lukmanul, penguatan infrastruktur air juga terus dilakukan melalui program pompanisasi. Hingga 2025, ratusan unit pompa telah disalurkan ke berbagai wilayah, dan jumlahnya akan ditambah pada 2026 melalui dukungan anggaran daerah dan pusat.
