Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya predator alami serta rendahnya intensitas penangkapan, sehingga populasi ikan sapu-sapu terus meningkat.
“Sisa makanan dari dapur, limbah cuci piring, sampai sampah organik dari UMKM yang dibuangnya ke sungai itu kan jadi pasokan makanan. Selama itu tidak dihentikan, populasinya akan terus meledak, karena predator alaminya juga minim. Jadi ini juga harus menjadi perhatian biar ga ngerusak ekosistem,” ucapnya.
Lebih jauh, keberadaan ikan sapu-sapu ini, kata Suparno, tidak hanya mengganggu ekosistem, tetapi juga berpotensi merusak infrastruktur sungai.
Baca Juga:Ikan Sapu-Sapu Ditemukan di 3 Titik Sungai Wilayah Kota Bogor, Siap Lakukan Pembasmian Kebun Raya Bogor Gelar Aksi Lingkungan Operasi Plastik, 1,2 Ton Sampah Berhasil Diangkat dari Sungai Ciliwung
Suparno menjelaskan, ikan sapu-sapu biasa membuat lubang di dasar maupun tebing sungai sebagai tempat bertelur. Jika jumlahnya terus meningkat, kondisi tersebut dapat melemahkan struktur tanah dan berisiko memicu longsor di bantaran sungai.
“Selain itu, aktivitasnya yang mengaduk dasar sungai juga bisa menyebabkan endapan lumpur yang dapat menutup telur ikan lokal, sehingga menghambat bahkan menggagalkan proses penetasan ikan lokal lainnya,” ujarnya.
Adapun keberadaan ikan sapu-sapu di sejumlah aliran sungai di Kota Bogor diketahui melalui aktivitas lapangan yang dilakukan tim Satuan Tugas Naturalisasi Sungai Ciliwung.
Suparno menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari interaksi dengan para pemancing serta hasil patroli rutin pihaknya di sepanjang Sungai Ciliwung maupun Cisadane.
“Ketika ada aktivitas memancing, kami sering berdiskusi dengan para pemancing. Dari situ kami mendapat banyak informasi terkait keberadaan ikan sapu-sapu, selain juga dari patroli sungai yang rutin dilakukan,” ungkapnya.
Suparno pun menambahkan, perencanaan penanganan ikan sapu-sapu untuk dilakukan pembasmian ini diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh oleh seluruh pihak terkait dan tidak hanya terfokus pada sungai utama.
Nantinya dalam proses penanganan, anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Ciliwung juga diharapkan dapat menjadi perhatian, karena itu berpotensi menjadi habitat utama penyebaran ikan sapu-sapu, seperti Kali Cipakancilan, Ciparigi, hingga Ciluwer.
Baca Juga:Rawat Hulu Ciliwung, Pemkab Bogor Bentuk Tim Khusus Pantau Pohon Selama SetahunPerumda Pasar Tohaga Sebut Pembersihan Hulu DAS Ciliwung sebagai Rangsangan Awal
“Kalau misalnya dilakukan secara seremonial, jangan sampai seluruh energi 100 persen habis di kegiatan itu saja. Bagaimana energi tersebut bisa terdistribusi, baik di sungai utama maupun anak-anak sungai. Jadi tidak hanya Ciliwung atau Cisadane, tapi juga anak-anak sungai yang masuk ke aliran Ciliwung maupun Cisadane gitu,” tuturnya.
