JABAR EKSPRES – Momentum mudik Lebaran pada Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau 2026 Masehi dinilai berada di ambang krisis energi.
Kekhawatiran ini muncul seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat dengan Iran.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno.
Baca Juga:BSI Berbagi: 5.000 Anak Yatim Terima Santunan Serentak di Seluruh IndonesiaTransaksi ZISWAF BSI Naik 14 Persen Selama Ramadan
Menurutnya, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi peringatan serius bagi ketahanan energi nasional, terutama ketika jutaan masyarakat Indonesia bersiap melakukan perjalanan mudik.
Djoko menuturkan, situasi geopolitik yang memanas berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi dalam negeri, terutama di sektor energi dan transportasi yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM).
“Ketegangan geopolitik antara Israel-AS dan Iran mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri menjelang mudik Lebaran 2026,” kata Djoko kepada Jabar Ekspres, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, salah satu dampak paling nyata dari konflik global tersebut adalah meningkatnya harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak mentah berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri, yang bisa langsung dirasakan masyarakat yang hendak melakukan perjalanan mudik.
“Hal ini tentu akan membebani biaya transportasi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan mudik,” jelas Djoko.
Djoko juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 860 ribu barel per hari.
Baca Juga:Silaturahmi Akbar PKB, Kang Cucun Serahkan Kendaraan Ambulans untuk 31 KecamatanHj Renie Rahayu Fauzi Hadiri Reses Wakil Ketua DPR RI H Cucun A Syamsurijal Dari Fraksi PKB
Kondisi ini membuat setiap peningkatan aktivitas transportasi, termasuk musim mudik, otomatis meningkatkan kebutuhan BBM secara signifikan.
Selain itu, Djoko menilai sistem transportasi Indonesia masih rapuh karena sangat bergantung pada energi fosil, sementara pengembangan transportasi publik belum menjadi prioritas yang cukup kuat.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi pergerakan masyarakat selama periode angkutan Lebaran 2026 tetap sangat besar, dengan total sekitar 143,91 juta orang atau 50,6 persen dari total penduduk Indonesia.
Wilayah dengan jumlah pemudik terbesar diperkirakan berasal dari Jawa Barat (30,97 juta orang), DKI Jakarta (19,93 juta orang), dan Jawa Timur (17,12 juta orang).
Sementara daerah tujuan mudik paling banyak adalah Jawa Tengah (38,71 juta orang), Jawa Timur (27,29 juta orang), dan Jawa Barat (25,09 juta orang).
