JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya mencari solusi konkret dalam mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak. Salah satu langkah inovatif yang kini mulai diterapkan adalah penggunaan bioaktivator di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Patrakomala.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa bioaktivator merupakan cairan hasil fermentasi mikroorganisme pengurai yang berfungsi mempercepat proses dekomposisi sampah organik menjadi kompos. Teknologi sederhana ini dinilai efektif untuk mempercepat pengomposan sekaligus mengurangi dampak negatif yang kerap muncul dari tumpukan sampah.
“Bioaktivator bisa mempercepat proses pengomposan dan efektif mengurangi bau tidak sedap. Kalau ada bau, langsung disemprot dan baunya hilang. Lalat pun berkurang. Meski masih tahap percobaan, kami berharap ke depan hasilnya semakin optimal,” ujar Farhan, Selasa (24/2).
Baca Juga:Dam Cikaret Kabupaten Bogor Dibersihkan, 13 Truk Sampah dan Beko DikerahkanBaru 30 Persen RW Kelola Mandiri, Bandung Masih Tanggung 500 Ton Sampah per Hari
Menurutnya, keunggulan bioaktivator tidak hanya terletak pada efektivitasnya, tetapi juga pada kemudahan produksinya. Cairan ini dapat dibuat secara mandiri oleh masyarakat tanpa memerlukan proses manufaktur yang rumit maupun biaya besar. Dengan demikian, warga didorong untuk lebih mandiri dalam mengelola sampah organik di lingkungan masing-masing.
Pemkot Bandung berharap, inovasi ini menjadi bagian dari perubahan pola pikir masyarakat dalam pengelolaan sampah, dari yang sebelumnya bergantung pada sistem angkut-buang menjadi pengolahan mandiri dan berkelanjutan di tingkat sumber.
Langkah ini juga menjadi strategi penting menyusul adanya pembatasan pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Saat ini, kuota kiriman sampah dari Kota Bandung ke TPA Sarimukti dibatasi hanya 981 ton per hari.
Padahal, produksi sampah harian di Kota Bandung mencapai sekitar 1.500 ton. Artinya, terdapat selisih sekitar 500 ton sampah yang harus diselesaikan di dalam kota melalui berbagai metode pengolahan, termasuk optimalisasi TPS3R dan penerapan bioaktivator.
Farhan menegaskan, pihaknya menargetkan seluruh sisa sampah yang tidak dapat dikirim ke TPA Sarimukti bisa tertangani sepenuhnya di Kota Bandung paling lambat akhir semester pertama tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, Pemkot akan terus memperluas penerapan teknologi pengolahan sampah, memperkuat peran TPS3R, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
