Di era digital, lanjut Wawan, dampak praktik pungli bisa semakin luas karena keluhan wisatawan dengan cepat tersebar di media sosial. Ia mencontohkan destinasi yang mengalami penurunan kunjungan akibat persepsi negatif wisatawan.
“Sekarang kan mudah. Pada saat masyarakat tidak puas terhadap lokasi wisata yang dikunjungi, mereka bisa langsung lapor di media sosial. Dan siapa yang rugi nanti? Wilayah kita sendiri,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat meningkatkan hospitality, keramah-tamahan, kenyamanan, serta memperkuat kearifan lokal sebagai daya tarik wisata.
Baca Juga:Lewat #TemanAturUang, Kredit Pintar Dorong Ibu Lebih Bijak Pahami Pinjaman dan Kelola Keuangan SehatMeski Sulit, Tuntaskan di Bandung!
“Saya ingin menghimbau pada masyarakat, mari kita tingkatkan dari sisi hospitality, keramah-tamahan, kenyamanan, kemudian tidak ada pungli. Kemudian kearifan lokalnya ditingkatkan. Karena saya yakin masyarakat kita sudah sadar, hanya oknum-oknum saja,” tegasnya.
Wawan juga menyoroti keterbatasan aparat dalam melakukan pengawasan menyeluruh di seluruh titik destinasi wisata. Menurutnya, pengawasan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada polisi, TNI, maupun dinas terkait.
“Kalau kita mengandalkan polisi, mengandalkan TNI, mengandalkan Dinas Pariwisata, kan mereka juga mungkin pungli tidak tahu di mana lokasinya. Jadi yang lebih penting adalah kesadaran masyarakat dari mulai tingkat RT, RW, sampai masyarakat luas,” ungkapnya.
Ia menambahkan, imbauan Gubernur Jawa Barat terkait larangan pungli di lokasi wisata sejalan dengan komitmen pemerintah daerah. Namun pada prinsipnya, kebijakan bebas pungli sudah menjadi keharusan sejak lama.
“Mudah-mudahan dengan himbauan Pak Gubernur ini semangat masyarakatnya semakin tinggi, kesadaran masyarakatnya semakin tinggi,” katanya.
Disparekraf berharap momentum kasus viral tersebut menjadi shock therapy bagi pengelola wisata dan masyarakat sekitar agar potensi besar sektor pariwisata Kabupaten Bandung tidak tercoreng oleh ulah segelintir oknum.
“Jangan sampai potensi-potensi yang besar di Kabupaten Bandung ini berkaitan dengan usaha wisata tercoreng oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” pungkas Wawan.
