Perjalanan spiritual tersebut membawanya pada pemahaman mendalam tentang berpakaian sesuai syariat. Tantangan mencari busana syar’i yang nyaman, fungsional, dan tetap berkelas—terutama untuk mobilitas Jakarta–Bandung—menjadi titik awal lahirnya Haadiya Syari.
Natural Fabric dan Prinsip Slow Fashion
Haadiya Syari mengusung penggunaan natural fabric yang ringan, adem, dan nyaman digunakan sepanjang hari. Alia menegaskan, material yang digunakan tidak menimbulkan efek statis dan lebih ramah bagi tubuh.
“Insyaallah bahan-bahan Haadiya menggunakan natural fabric, lebih flowy, tidak menimbulkan keringat, dan nyaman untuk aktivitas dari pagi sampai malam,” ujarnya.
Baca Juga:Deadline Day! Bakal Ada Kejutan dari Pemain Naturalisasi yang Hijrah ke Super League, Gabung Persib Bandung?Bukan ke Persib Bandung, Cyrus Margono Ternyata Lebih Memilih Gabung Tim Persija Jakarta
Lebih dari itu, Haadiya Syari juga berkomitmen pada prinsip slow fashion, dengan jumlah koleksi terbatas dan tidak mengikuti ritme industri yang serba cepat.
“Kami tidak akan terlalu sering mengeluarkan koleksi. Mungkin dua atau tiga kali saja dalam setahun, karena kami tidak ingin menambah beban masalah seperti sampah dan landfill,” tegas Alia.
Tiga Pilar Koleksi Haadiya
Dalam koleksi perdananya, Haadiya Syari menghadirkan tiga pilar utama. Pilar pertama bertajuk One Path, dengan garis tegas yang merepresentasikan tauhid kepada Allah. Pilar kedua, The Shape That Influence, The Influence That Shaped Me, terinspirasi dari perjalanan hidup Alia di berbagai negara seperti India, Jepang, dan London, yang dituangkan dalam elemen batik, tenun, hingga sentuhan budaya global.
Sementara pilar ketiga, The Calm Within, menampilkan busana polos tanpa ornamen, menghadirkan ketenangan dan kesederhanaan. Koleksi ini dirancang khusus untuk kenyamanan beribadah, termasuk untuk umrah.
Kolaborasi dan Pesan Sosial
Dalam koleksi kapsul perdananya, Haadiya Syari berkolaborasi dengan desainer Adrie Basuki melalui batik Sadabhumi, yang terinspirasi dari filosofi perjuangan para penyintas kanker.
“Saya memahami perjuangan ini karena pengalaman personal saya. Saya berharap kolaborasi ini bisa menginspirasi lebih banyak brand untuk bekerja sama dengan para pejuang hebat yang sedang menghadapi ujian hidup,” ujar Alia.
Tak berhenti di situ, Haadiya juga menggandeng berbagai women founders dan komunitas perempuan, mulai dari Halal Lika Project, Sahip Indonesia, Hijab Syafiyah, hingga Qur Love Story, sebagai bentuk dukungan terhadap ekosistem kolaboratif dalam industri modest fashion.
