”Perjalanan 7 tahun di Rawa Lele adalah ‘Pitu’, simbol Pitulunge (pertolongan) Gusti Allah. Dengan semangat merangkul umat melalui hati, kita rajut kembali kebersamaan untuk menjaga persatuan negeri,” tandas Abuya Kyai Habib Umar.
Oase Kerukunan di Tengah Masyarakat
Tak hanya menjadi ajang doa bersama, Harlah ke-13 ini juga menjadi simbol kuatnya sinergi antara ulama, umaro (pemerintah), dan masyarakat. Kehadiran berbagai pejabat instansi pemerintah dan tokoh masyarakat menunjukkan bahwa Ponpes Safinatul Qodiri telah menjadi pengejawantahan nilai-nilai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Turut hadir memberikan tausiyah, Pengasuh PP. Nurussalam & Walisongo, Tuban, Jawa Timur, KH. Abraham Naja MN. S.H., M.H (Gus Naja) serta Sultan Banten Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja. Kehadiran para tokoh ini mempertegas misi pesantren untuk merangkul umat dengan cinta tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Baca Juga:Masih Amankah Daftar Aplikasi AMG Pantheon Sekarang? Klaim Penghasil Uang yang AMANMengusung Filosofi 'Marem', Resto Saji Marem Bawa Cita Rasa Otentik Jawa Tengah ke Jantung Kota Kembang
Melalui momentum Harlah ini, Ponpes Safinatul Qodiri mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai wadah pemersatu bangsa yang berangkat dari hati. (*)
