Menanggapi hal itu, Asep menilai gerakan swadaya masyarakat menjadi bukti bahwa keberadaan jalan merupakan urat nadi kehidupan.
“Tidak hanya memudahkan anak bersekolah, tapi menjadi akses pendorong ekonomi. Hasil panen gak mungkin dipanggul, jika jalan bagus bisa pakai kendaraan bawa panen,” ujarnya.
Selain itu, masih terdapat akses vital berupa jalan tanah merah di wilayah Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Kondisi Jalan Merak–Dampit yang memprihatinkan ini sempat viral di media sosial, padahal kawasan tersebut merupakan sentra hortikultura yang berpotensi menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota
Bupati Bandung Dadang Supriatna sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya telah menganggarkan Rp196 miliar dari APBD 2026 untuk perbaikan jalan dan jembatan. Ia juga menyebut anggaran tersebut masih bisa bertambah jika terdapat pemasukan tambahan ke kas daerah.
Asep pun berpesan agar pada periode kedua kepemimpinannya, Dadang Supriatna lebih peka terhadap pembangunan fasilitas penunjang seluruh sektor, terutama perbaikan akses jalan bagi masyarakat.
“Percuma digitalisasi market pasar luas, hasil tani bisa langsung terhubung ke konsumen, tapi akses jalan rusak,” imbuhnya.
“Hasil pisang gak mungkin dikirim pakai email, meski dijual secara online tetap barangnya harus dipaket, diantar. Itu tidak akan lancar jika jalan rusak. Maka perbaikan jalan perlu jadi skala prioritas,” pungkas Asep. (Bas)
