“Inilah seni budaya ditampilkan, adat istiadat juga disampaikan melalui tarian dan budaya dari daerah masing-masing. Ini wujud kebersamaan bagi kita semua,” ujarnya.
Meski luasan wilayah Kota Cimahi relatif kecil, Ngatiyana menegaskan bahwa Cimahi dihuni oleh beragam suku, ras, dan agama. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan untuk bersatu, bukan alasan untuk bermusuhan.
“Jangan mengedepankan perbedaan menjadi permusuhan, tapi perbedaan adalah persaudaraan bagi kita semuanya. Itu yang kita tampilkan di Kota Cimahi,” imbuhnya.
Baca Juga:Warna-Warni Nusantara di Jantung Cimahi, Ragam Etnis Tampil dalam Sangkuriang Festival 2025Masteci Bangun Panggung Inklusif di Cimahi, dari Teater Tuli hingga Drama Musikal ‘Impian Tak Terlihat’
Terkait penamaan Sangkuriang Festival, Ngatiyana menjelaskan bahwa istilah ‘Sangkuriang’ menggambarkan semangat kerja cepat dan target yang jelas. Menurutnya, perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam waktu singkat, namun tetap berjalan dengan baik.
“Saya sampaikan juga, Sangkuriang itu bekerjanya cepat. Kita rencanakan dalam waktu sehari, selesai. Jadi rencana cepat, pelaksanaan cepat, hasilnya juga cepat,” terangnya.
Ia menambahkan, Sangkuriang Festival hanyalah istilah yang diambil dari kearifan lokal Jawa Barat. Filosofinya adalah bekerja cepat, merencanakan dengan cepat, melaksanakan dengan cepat, dan mendapatkan hasil yang cepat pula.
“Itulah Sangkuriang, bekerja satu malam selesai,” kata Ngatiyana.
Lebih lanjut, Ngatiyana menegaskan bahwa keragaman bukanlah tantangan, melainkan kekayaan yang harus dirawat. Meski beragam, seluruh elemen masyarakat tetap satu sebagai bangsa Indonesia.
“Persatuan dan kesatuan yang kita utamakan. Makanya kita bina dan lakukan silaturahmi antar etnis, sehingga tidak saling menyalahkan. Perbedaan tidak dikedepankan, tapi persatuan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang utama,” tandasnya. (Mong)
