Dalam peta ekspor Indonesia yang masih didominasi komoditas seperti batu bara dan nikel, industri fashion, terutama alas kaki, hadir sebagai pilar yang diam-diam tangguh. Sektor ini konsisten menjadi penyokong ekspor nonmigas, menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki kemampuan manufaktur yang diperhitungkan.
Data dari World Footwear Yearbook (2024) menegaskan konsistensi Indonesia yang bertengger di posisi empat besar produsen sepatu dunia, menguasai sekitar 4% dari total produksi global. Media industri terkemuka Modaes (Oliveras, 2025) juga mencatat bahwa Indonesia memproduksi sekitar 600 juta pasang sepatu, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat manufaktur terpenting di Asia, di belakang raksasa Tiongkok dan Vietnam.
Dari sisi ekspor, laporan Indonesia Footwear Industry oleh Permata Bank Institute for Economic Research (Pardede et. al., 2024) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam 10 besar negara pengekspor pakaian dan alas kaki, dengan nilai ekspor yang terus menanjak dalam lima tahun terakhir. Tidak heran jika brand global seperti Adidas dan Nike menempatkan Indonesia sebagai basis produksi strategis. Kementerian Perindustrian menyebut bahwa sekitar 30% tenaga kerja pabrik global untuk kedua raksasa sportswear tersebut berada di Indonesia, sebuah indikasi yang jelas betapa vitalnya peran negeri dalam menjaga ritme pasokan industri alas kaki global.
Baca Juga:Akademisi Psikologi Soroti Tantangan Gen Z dalam Seleksi TNI–Polri: Fokus & Disiplin MenurunStadion Pakansari Siap Gelar Laga Timnas Indonesia Lawan Mali
Poros hubungan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok menjadi salah satu penggerak utama dinamika perdagangan regional. Mulai dari tekstil, komponen sepatu, hingga berbagai bahan baku penunjang manufaktur, Tiongkok adalah pemasok utama dan sekaligus mitra dagang terbesar Indonesia. Banyak industri lokal, termasuk alas kaki, bergantung pada stabilitas pasokan bahan baku dari utara.
Namun, kebijakan tarif AS yang baru, yang menargetkan barang buatan Tiongkok yang dialirkan melalui negara ketiga, mengacak-acak peta perdagangan ini. Efeknya menjalar luas, menyentuh setiap negara yang terlibat dalam rantai pasokan regional, termasuk Indonesia. Produsen dituntut untuk menata ulang strategi pengadaan bahan baku, memastikan transparansi asal-usul material, dan beradaptasi cepat dengan aturan rules of origin yang semakin ketat dari pasar global.
Di tengah cerita kesuksesan industri sportswear, Indonesia dikejutkan oleh tutupnya PT Sri Rejeki Isman (Sritex) tahun lalu. Perusahaan tekstil raksasa yang pernah menjadi pemasok bagi H&M, Inditex, dan Uniqlo itu akhirnya tumbang setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan finansial. Kejatuhan Sritex menjadi pengingat pahit bahwa daya saing industri tidak hanya ditentukan oleh tingginya permintaan global. Kemampuan sebuah perusahaan dalam mengelola risiko, menjaga efisiensi biaya, dan menerapkan tata kelola keuangan yang sehat adalah faktor penentu yang tak kalah penting. Kilau industri fashion seringkali menyembunyikan realitas kompetisi yang keras di balik layar.
