Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok Dorong Swasembada Pangan di Bandung Barat

Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok Dorong Swasembada Pangan di Bandung Barat
BUDIDAYA IKAN: Purwadi (58), salah satu anggota kelompok Saung Akar Ikan Bioflok tengah memantau deretan kolam bundar berdiameter tiga meter di halaman belakang Perumahan Graha Padalarang, KBB/ FOTO SUWITNO/JABAR EKSPRES
0 Komentar

Selain membesarkan ikan nila, kelompok Saung Akar kini tengah memperluas segmen usahanya ke pembenihan, pendederan, pengolahan hasil budidaya, hingga produksi pakan ikan mandiri. Tujuannya agar siklus usaha tidak hanya bergantung pada satu tahapan produksi.

“Kita ingin semua proses dari hulu ke hilir bisa dilakukan di sini. Jadi kelompok bisa mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan,” kata Purwadi.

Ia juga menaruh harapan besar pada program swasembada pangan yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program ini mendorong peningkatan produksi pangan, termasuk sektor perikanan air tawar, agar Indonesia tidak bergantung pada impor bahan pangan berprotein hewani.

Baca Juga:Joan Laporta Tegas Bantah Rumor Kembalinya Lionel Messi ke Barcelona pada 2026Tottenham Siap Tebus Takefusa Kubo Rp1 Triliun, Real Madrid Jadi Pihak yang Paling Untung

“Kami sangat mendukung program swasembada pangan ini. Budidaya ikan bioflok adalah cara nyata untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Purwadi mengaku saat ini kelompoknya sedang menunggu realisasi bantuan tambahan dari Pemda Bandung Barat, Pemprov Jawa Barat, dan dukungan dari anggota DPR RI.

“Semua sudah disurvei dan diverifikasi. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi agar kapasitas produksi kami meningkat,” katanya berharap.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti, menjelaskan bahwa teknologi bioflok merupakan salah satu inovasi penting dalam meningkatkan produksi ikan nila nasional.

“Ikan nila adalah komoditas air tawar dengan permintaan tinggi, baik di pasar lokal maupun global. Amerika Serikat bahkan menjadi importir terbesar ikan nila dunia dalam bentuk fillet,” ungkapnya.

Wiwin menambahkan, sistem bioflok bukan hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga menuntut penerapan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) agar hasilnya berkualitas dan berkelanjutan.

“Kalau semua tahapannya sesuai prinsip CBIB, dampaknya akan luar biasa. Sistem ini juga ramah lingkungan dan bisa mengurangi ketergantungan terhadap budidaya di danau atau waduk yang rentan terhadap pencemaran,” katanya.

Baca Juga:Persib Fokus Pertahankan Tren Positif, Dewa United Jadi Target Berikutnya!Ciamis Kembali Jadi Percontohan Nasional, Rombongan dari Kalimantan Datang Belajar Kelola Sampah

Menurut Wiwin, pengembangan budidaya ikan nila dengan sistem bioflok juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Selain menjadi sumber protein hewani, kegiatan ini bisa menjadi bagian dari program ketahanan pangan daerah yang berbasis pada sumber daya lokal.

0 Komentar