JABAR EKSPRES – Pemain disabilitas intelektual putra Thailand, Sukollawat Khongphetsak, tampak menguasai bola di bawah tekanan pemain Indonesia, Luthfi Rahmat Jaya Aji Ma’arif, pada laga pembuka babak pengelompokan Kompetisi Disabilitas Intelektual di Stadion Sidolig, Selasa (11/11).
Pertandingan itu menjadi bagian dari rangkaian Special Olympics Southeast Asia Football Competition 2025 yang digelar selama lima hari di Kota Kembang. Ajang ini mempertemukan 132 atlet dengan disabilitas intelektual dan perkembangan (IDD) dari enam negara Asia Tenggara.
Diantaranya Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Mereka berkompetisi dalam format tujuh lawan tujuh di kategori putra dan putri.
Baca Juga:Mereka yang Berdiri di Antara Sorak dan Sunyi: Kisah Steward, Penjaga Denyut Sepak Bola IndonesiaMenjahit Sejarah, Merayakan Gairah: Representasi Jersey dalam Identitas Klub Sepak Bola
“Ini adalah kompetisi regional kedua kami tahun ini dan lebih dari sekadar acara olahraga, ini adalah pengingat yang kuat tentang bagaimana inklusi terlihat dalam tindakan,” ujar Dipak Natali, Presiden Regional dan Direktur Pelaksana Special Olympics Asia Pacific (SOAP), dalam sambutannya.
Dipak menambahkan, pemilihan Bandung sebagai tuan rumah selaras dengan visi SOAP menjadikan Indonesia sebagai negara fokus gerakan Special Olympics di kawasan Asia Pasifik.
“Bandung menunjukkan kepada kawasan Asia Pasifik apa artinya memimpin dengan hati. Ketika atlet bertalenta khusus atau disabilitas intelektual dapat berkembang dengan dukungan dan kesempatan berlatih,” tambahnya.
Bahkan hingga mereka mampu berkompetisi, menurutnya, itu menjadi perayaan bagi perkembangan potensi mereka sekaligus katalisator untuk perubahan yang langgeng.
Bersamaan, Ketua Umum Special Olympics Indonesia (SOIna), Warsito Ellwein, menyebut kompetisi ini sebagai ruang ekspresi bagi para atlet bertalenta khusus.
“Kami bekerja keras untuk menciptakan ruang di mana mereka dapat mengekspresikan diri dan menunjukkan keterampilan mereka,” ujarnya.
Menurut Warsito, setiap atlet memiliki hak yang sama untuk mengembangkan bakat mereka seperti orang lain.
Baca Juga:Cristiano Ronaldo Jadi Pesepakbola Terkaya di Dunia 2025, Pendapatan 2 Kali Lebih Besar dari Messi2 Pelatih Asal Belanda yang Bisa Gantikan Patrick Kluivert di Timnas Indonesia, Tahu Kultur Sepak Bola Asia
“Acara ini adalah langkah menuju perwujudan hak tersebut,” katanya.
Selain kompetisi, panitia juga akan menggelar program Special Olympics Healthy Athletes pada 12-13 November. Program yang didukung oleh Golisano Foundation ini memberikan pemeriksaan dan edukasi kesehatan gratis bagi atlet dengan IDD di Bandung.
Seluruh pertandingan akan berlangsung di Stadion Persib Sidolig, Jalan Ahmad Yani, Bandung. Publik diundang hadir untuk menyemangati para atlet dan merasakan langsung semangat inklusi yang menjadi napas gerakan Special Olympics.
