Perbedaan budaya dan gaya melatih menjadi salah satu penyebab utama. Alonso yang dikenal sangat disiplin dianggap terlalu kaku dan terlalu mengontrol setiap aspek permainan.
Pendekatan itu sangat berbeda dengan gaya Carlo Ancelotti, pelatih sebelumnya, yang lebih fleksibel dan dekat dengan para pemain.
Alonso disebut jarang melakukan komunikasi personal, membuat beberapa pemain merasa dirinya adalah sosok yang dingin dan sulit didekati.
Baca Juga:Legenda Setan Merah Akui Salah, Bryan Mbeumo Ternyata Rekrutan Terbaik Manchester United!Gagal Lagi, Ronaldo Perpanjang Rekor Tanpa Trofi Bersama Al Nassr!
Situasi inilah yang memperburuk ketegangan dengan Vinicius, yang dikenal sebagai pemain ekspresif dan emosional di lapangan.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Xabi Alonso akan menangani situasi ini. Publik menanti apakah ia bisa mengembalikan kepercayaan dan harmoni di ruang ganti Los Blancos.
Sementara itu, Vinicius berusaha membuktikan bahwa emosinya hanyalah luapan sesaat, dan bahwa cintanya kepada Real Madrid tetap tak tergantikan.
