JABAR EKSPRES – Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepakat untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara dalam pertemuan puncak pertama mereka di Tokyo pada Selasa.
Dalam bidang keamanan, keduanya menegaskan pentingnya meningkatkan kemampuan pencegahan dan respons aliansi Jepang–AS, terutama menghadapi meningkatnya ancaman dari China dan Korea Utara. Pemerintah AS juga mendorong sekutunya, termasuk Jepang, untuk menambah anggaran pertahanan guna memperkuat stabilitas kawasan.
Dalam sambutan pembuka, Takaichi, yang baru saja mencatat sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang menyampaikan komitmennya untuk membangun “era keemasan baru” dalam hubungan Jepang–AS. Ia menyebut kemitraan kedua negara kini telah berkembang menjadi “aliansi terbesar di dunia.”
Baca Juga:Jorge Martin Absen di MotoGP Portugal 2025, Fokus Pulihkan Cedera BahuGaji Militer AS Terancam Tertunda di Tengah Penutupan Pemerintah
Takaichi juga memuji kiprah Trump dalam upaya perdamaian di Timur Tengah serta penyelesaian konflik antara Thailand dan Kamboja, yang menurutnya merupakan pencapaian diplomatik luar biasa. Sumber dari pemerintah Jepang bahkan menyebutkan bahwa Takaichi berencana mengusulkan Trump sebagai kandidat Hadiah Nobel Perdamaian.
Trump di sisi lain menegaskan komitmennya terhadap hubungan erat antara kedua negara.
“Saya selalu memiliki cinta dan rasa hormat yang besar terhadap Jepang, dan saya akan mengatakan bahwa hubungan ini akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya,” ujar Trump.
“Saya hanya ingin memberi tahu, kapan pun Anda memiliki pertanyaan, keraguan, keinginan, atau permintaan bantuan apa pun, jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membantu Jepang, kami akan selalu ada,” sambungnya.
Terkait kebijakan pertahanan, Takaichi diperkirakan akan menegaskan kembali rencananya untuk meningkatkan anggaran pertahanan Jepang hingga 2 persen dari PDB pada Maret mendatang, lebih cepat dua tahun dari target awal tahun fiskal 2027. Langkah ini selaras dengan dorongan Trump agar sekutu AS berkontribusi lebih besar dalam pembiayaan pertahanan bersama.
Sejak 2022, Jepang telah menaikkan belanja militernya secara signifikan setelah merevisi Strategi Keamanan Nasional jangka panjang, yang berjanji akan diperbarui kembali oleh pemerintahan Takaichi tahun depan.
Sebagai politikus konservatif garis keras dan penerus ideologis mendiang Shinzo Abe, Takaichi dikenal memiliki pandangan tegas dalam isu keamanan nasional. Ia kini berupaya melanjutkan warisan politik Abe dengan membangun hubungan erat dengan Trump, sebagaimana kedekatan pribadi yang dulu terjalin antara kedua pemimpin tersebut.*
