Ia menambahkan, lingkungan yang tidak sehat dapat memperparah risiko tersebut.
“Kalau air sudah tercemar karena tidak ada septic tank, bakteri E.coli bisa tinggi. Anak jadi sering diare, akhirnya pertumbuhannya terganggu,” jelasnya.
Menurut Fitriani, penanganan stunting memerlukan pendekatan lintas sektor.
“Percepatan penurunan stunting tidak bisa dilakukan satu dinas saja. Semua unsur, termasuk masyarakat, harus terlibat,” tegasnya.
Masalah sanitasi kembali menjadi sorotan utama. Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Endang, mengungkapkan hingga 2025 masih terdapat lebih dari 20 ribu rumah di Cimahi yang belum memiliki septic tank dari total 122 ribu rumah.
Baca Juga:Stunting di Jabar: Pedesaan Turun, Perkotaan Melonjak TajamCimahi Perkuat Kampung Keluarga Berkualitas, Stunting Jadi Fokus Utama Pencegahan
“Sebagian warga masih membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai atau meresapnya ke tanah. Ini berbahaya karena bisa mencemari air tanah dan memicu penyebaran bakteri berbahaya,” ujarnya.
Endang menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi memperburuk penyebaran penyakit dan berdampak langsung pada kesehatan anak-anak, termasuk peningkatan risiko stunting.
Meski demikian, pemerintah telah berupaya melakukan intervensi melalui program pembangunan septic tank modern berbahan fiber yang lebih higienis dan praktis.
“Model baru ini lebih kedap air, tidak bau, dan bisa dipasang di lahan sempit seperti halaman atau dapur. Proses pemasangannya juga jauh lebih cepat dibandingkan septic tank beton konvensional,” ungkapnya.
Namun, pelaksanaan program tidak selalu berjalan mulus. Masih ada warga yang menolak karena menganggap air limbah itu kotor dan menimbulkan bau.
“Setelah dijelaskan manfaatnya, sebagian besar baru mau menerima. Tantangannya sekarang lebih ke keterbatasan lahan,” kata Endang.
Menanggapi situasi tersebut, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menekankan pentingnya membangun keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Baca Juga:Angka Stunting di Pangalengan Turun Drastis, Kini Tinggal 1.200 KasusDelegasi Kanada Kunjungi Cimahi, Dorong Program Nutrisi dan Fortifikasi Pangan untuk Tekan Stunting
“Pembangunan yang berkelanjutan dimulai dari membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan berkualitas,” ujarnya.
Ngatiyana menilai bahwa stunting bukan hanya persoalan gizi, melainkan persoalan masa depan sumber daya manusia.
Anak-anak yang mengalami stunting berisiko mengalami hambatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, yang akhirnya berdampak pada produktivitas mereka di masa depan.
“Upaya percepatan penurunan stunting adalah prioritas nasional, termasuk di Cimahi. Program Kampung Keluarga Berkualitas hadir sebagai strategi untuk memberikan layanan pembangunan keluarga secara terpadu,” tegasnya.
