Ia menjelaskan, sejak Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Kampung Keluarga Berkualitas, program ini semakin diperkuat dengan fokus pada keluarga berisiko stunting.
“Sasaran utama kegiatan ini adalah keluarga berisiko stunting. Seribu hari pertama kehidupan merupakan momen emas bagi tumbuh kembang anak, sehingga menjadi fokus penanganan,” terang Fitriani.
Ia menambahkan, data lapangan yang akurat akan menjadi dasar strategi dalam mengoptimalkan delapan fungsi keluarga. Karena itu, partisipasi aktif unsur kewilayahan menjadi syarat mutlak dalam implementasi KKB.
Baca Juga:Angka Stunting di Pangalengan Turun Drastis, Kini Tinggal 1.200 KasusDelegasi Kanada Kunjungi Cimahi, Dorong Program Nutrisi dan Fortifikasi Pangan untuk Tekan Stunting
Dalam pertemuan tersebut juga diperkenalkan program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), inisiatif Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang melibatkan Kampung KB.
Program ini memastikan keluarga berisiko stunting mendapatkan asupan gizi seimbang melalui menu yang dirancang sesuai kebutuhan nutrisi.
Yoke Dadiputri, narasumber dari BKKBN Jawa Barat, menjelaskan bahwa DASHAT tidak hanya berfungsi sebagai penyedia makanan bergizi, tetapi juga sarana edukasi masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat.
“Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai komposisi makanan bergizi, agar keluarga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Yoke.
Dengan melibatkan kader lokal terlatih, DASHAT memastikan makanan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga sesuai selera masyarakat.
Melalui forum KKB 2025 ini, Pemerintah Kota Cimahi berharap lahir ekosistem keluarga yang harmonis, produktif, dan berdaya saing.
“Sinergi pemerintah, masyarakat, kader, dan dunia usaha diharapkan mampu mempercepat pencapaian target penurunan stunting, sekaligus mewujudkan Cimahi sebagai kota yang sehat dan sejahtera,” tandasnya. (Mong)
