Pengamat Tata Kota Independen, Yudi Asep Arifin, menilai banjir di Bandung bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga tata ruang. Hal ini diakibatkan oleh kurang pengawasan dan alih fungsi lahan yang berlangsung secara brutal.
“Alih fungsi lahan resapan, pembangunan yang tidak ramah lingkungan, serta buruknya manajemen air perkotaan membuat Bandung makin rentan banjir,” tegasnya.
Bukan hanya itu, masalah sampah jadi problematika lain dan luka lama yang belum sembuh. Krisis TPA Sarimukti pada 2024 menjadi titik balik yang seharusnya membuka mata bahwa Bandung perlu strategi baru dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga:Kuota 8 Persen Suporter Timnas Indonesia di Arab Saudi Tak IdealTerungkap! Alasan Mees Hilgers dan Marselino Tak Dipanggil Timnas Indonesia, Ternyata…
Namun faktanya, tumpukan sampah di sudut kota masih mudah ditemukan. Meskipun Pemkot Bandung gencar mengampanyekan “Kang Pisman” (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), implementasinya masih jauh dari harapan. Minimnya fasilitas pemilahan sampah di tingkat RW/kelurahan membuat kebijakan tersebut berjalan timpang.
Bahkan, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengakui bahwa program ini yang pengimplementasiannya menjadikan wilayah RW menjadi Kawasan Bebas Sampah (KBS), mengalami kemunduran akibat kurangnya perhatian akan keberlanjutan program.
“Kang Pisman turun soalnya dari 400an RW sekarang tinggal 300an RW, jadi kita akan kebut lagi,” kata Farhan.
“Turun itu statusnya, yang tadinya KBS (Kawasan Bebas Sampah) mengolah minimal 30 persen sampah didalamnya, sekarang udah kurang dari 30 persen kan. Nah itu dievaluasi lagi statusnya,” tambahnya.
Sejumlah akademisi menilai, HJKB ke-215 seharusnya dijadikan momentum refleksi serius oleh pemerintah kota. Pesta rakyat memang penting untuk merawat identitas dan kebanggaan warga, tetapi esensi ulang tahun kota mestinya hadir lewat solusi nyata pada persoalan mendasar.
“Bandung punya modal besar sebagai kota sejarah, kota kreatif, bahkan destinasi wisata kelas dunia. Namun semua itu akan tergerus kalau fondasi dasarnya, yakni transportasi, tata ruang, dan lingkungan, tidak segera dibereskan,” kata Yudi.
Masyarakat kini menunggu, apakah janji-janji penataan kota yang berulang kali disuarakan dalam setiap perayaan HJKB akan benar-benar menjadi aksi nyata, atau sekadar retorika tahunan.
Baca Juga:Persib Siap Tempur Lawan Persita, Hodak Optimistis Tren Positif BerlanjutRealisasi FLPP di Jawa Tengah Mencapai 15.414 unit Rumah, Program 3 Juta Rumah Terus Digenjot
Di usia 215 tahun, Bandung dihadapkan pada pilihan besar, melanjutkan tradisi seremonial yang meriah, atau mulai menuntaskan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.
