Yang Ketiga Aspek Kebijakan Pemerintah Israel yang radikal, Pemerintah koalisi Israel saat ini dianggap sebagai yang paling kanan dalam sejarah negara itu, dengan beberapa menteri yang secara terang-terangan menentang keberadaan negara Palestina.
Ekspansi pemukiman terus berlanjut, mempersulit peta menuju solusi dua negara. Keempat Adalah Soal Keamanan dan Kepercayaan, Isu keamanan bagi Israel dan akhir pendudukan bagi Palestina adalah isu yang sangat sensitif. Membangun kepercayaan setelah puluhan tahun kekerasan dan permusuhan adalah tugas yang sangat berat.
Solidaritas global untuk Palestina membuktikan bahwa semangat Bandung tidak punah, spirit dasasila bandung itu tetap established, ia hanya berubah bentuk. Ia menjadi lebih inklusif, lebih strategis, dan lebih vokal.
Baca Juga:FORBAS Majakuning Minta KPK Tinjau Kembali Dugaan Kasus Korupsi di DJKA KemenhubGerakan Insan Nusantara Angkat Bicara Soal Kasus Silfester Mandek di Eksekusi Kejati DKI
Koalisi ini mungkin tidak memiliki bom yang paling canggih atau kekuatan ekonomi terbesar, tetapi ia memiliki aset yang paling berharga dalam diplomasi yaitu legitimasi dan suara Bersama. Perjuangan untuk kemerdekaan Palestina masih panjang dan berliku.
Namun, dengan dukungan dari koalisi global yang terdiri dari bangsa-bangsa di Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan bahkan mayoritas negara Eropa, beban itu tidak lagi dipikul sendirian. Mereka telah mengangkatnya menjadi sebuah agenda kemanusiaan universal.
Inilah warisan sejati Konferensi Bandung yang masih hidup, bahwa bangsa-bangsa yang percaya pada keadilan akan selalu bersatu, melampaui batas benua, untuk membela yang tertindas. Dan hari ini, suara mereka bergema lebih keras dari sebelumnya untuk membebaskan Palestina. Pungkas Pengajar Hubungan Internasional Fisip Universitas Jakarta.
