BANDUNG – Pemuda Bandung menunjukkan tajinya sebagai penggerak ekonomi lokal. Sebanyak 70 wirausaha muda sektor pangan mencatat omzet kolektif Rp6,71 miliar melalui program NURTURE (Nurturing Urban Resilience through Unifying Resources and Education), yang berlangsung dari Desember 2024 hingga Juli 2025.
Capaian ini diumumkan pada acara #FYPday (Food Youth Preneur Day) di Pendopo Kota Bandung, Senin, 25 Agustus 2025. NURTURE, bagian dari inisiatif global Urban Futures (UF), digagas Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis) bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) dengan dukungan Pemerintah Kota Bandung.
Program ini membangun ekosistem kewirausahaan pangan yang inklusif, adaptif, dan tahan iklim, melibatkan pemuda usia 18-33 tahun. Tantangan klasik wirausaha muda, seperti lemahnya pencatatan keuangan, kurangnya perencanaan bisnis, dan minimnya pemanfaatan kanal digital, sering menghambat keberlanjutan usaha di tengah persaingan ketat dan perubahan tren konsumsi urban. NURTURE menjawab dengan pelatihan bisnis, pendampingan intensif, penerapan teknologi digital, dan konsultasi untuk model bisnis berkelanjutan.
Baca Juga:Teater Djarum Sajikan Para Petarung, Ajak Penonton Menyentuh Kehidupan Sehari-hariKampus Berdampak: KKN ISBI Bandung Aktivasi Geo Theater dan Gali Potensi Budaya Rancakalong
Hariyanto, pemilik Paskaw Hidroponik, merasakan dampak nyata. Sejak 2020, ia mengembangkan pertanian modern di perkotaan, namun terkendala manajemen keuangan dan pemasaran digital.
“Dulu, laporan keuangan saya berantakan. Kini, dengan pencatatan terstruktur, jejaring komunitas petani hidroponik, dan pemasaran via media sosial serta lokapasar, omzet saya melonjak dari Rp6 juta menjadi Rp11,8 juta per bulan,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah dan Visi Ekspansi
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan peran pemuda dalam sistem pangan perkotaan yang tangguh. “Pemuda Bandung adalah agen perubahan. Dengan pendampingan tepat, mereka ciptakan usaha pangan lokal yang diversifikasi ekonomi, sekaligus hadirkan pangan sehat, terjangkau, dan berkelanjutan,” katanya.
Direktur Eksekutif Humanis, Tunggal Pawestri, menyebut Bandung sebagai laboratorium inovasi pangan. “Kreativitas pemuda Bandung mampu jawab tantangan ketahanan pangan dengan teknologi digital, pengolahan bahan lokal, dan distribusi efisien. Solusi mereka sehat, ramah lingkungan, dan selaras dengan gaya hidup urban,” ujarnya.
#FYPday menjadi ajang unjuk karya dan jejaring bagi wirausaha muda dengan sektor swasta, pemerintah, dan pelaku usaha lain. Gelar wicara dengan praktisi bisnis turut memperkaya wawasan peserta.
