Perketat Akreditasi Jurnal Ilmiah, Kemdiktisaintek Lawan Plagiarisme dan Penggunaan AI Tak Bertanggung Jawab

Perketat Akreditasi Jurnal Ilmiah, Kemdiktisaintek Lawan Plagiarisme dan Penggunaan AI Tak Bertanggung Jawab
Workshop Pendampingan dan Peningkatan Jurnal Ilmiah Terakreditasi 2025 di Unjani Cimahi 11-13 Agustus 2025. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Pemilihan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) sebagai mitra dalam program ini pun berdasarkan pertimbangan matang.

“Unjani kami nilai sebagai perguruan tinggi yang paling siap dan representatif di Jawa Barat untuk mendukung tata kelola jurnal ilmiah berkualitas,” terang Rizky.

Ia juga menyinggung tantangan yang muncul di era digitalisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Baca Juga:Unjani Tuan Rumah ICICP 2025, Pakar Psikologi Dunia Berkumpul di CimahiUNJANI Buka Pendaftaran Gelombang 5: Jalur Tes Tutup 21 Agustus, Non-Tes 23 Agustus 2025!

“Kita harus berhati-hati terhadap penggunaan AI, terutama terkait keaslian karya ilmiah. AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti sepenuhnya dalam penulisan artikel,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, beberapa jurnal telah mengimplementasikan aplikasi pendeteksi penggunaan AI untuk memastikan keaslian karya penulis.

“Harapannya, artikel yang terbit di jurnal terakreditasi Indonesia benar-benar merupakan hasil karya murni dari penulis, bukan produk sepenuhnya AI,” tambah Rizky.

Mengenai mekanisme pengawasan, Rizky mengungkapkan bahwa pihaknya menilai tata kelola jurnal, termasuk apakah pengelola jurnal sudah menggunakan aplikasi antisipasi AI.

“Jika ditemukan indikasi penggunaan AI secara berlebihan, maka jurnal tersebut akan kami evaluasi ulang akreditasinya, bahkan bisa diturunkan peringkat atau dibatalkan akreditasinya,” tegasnya.

Terkait plagiasi, Tim Jurnal Ilmiah juga sangat ketat. Pihaknya juga menggunakan sistem persentase kemiripan yang ketat, dan bila terdeteksi plagiasi, otomatis artikel tersebut akan ditolak.

Ia menegaskan, proses ini dilakukan sebelum artikel dipublikasikan.

“Jika artikel sudah lolos filter dan dipublikasikan, maka itu berarti sudah memenuhi standar akreditasi,” katanya.

Baca Juga:LLDIKTI IV dan Unjani Kerja Sama Fasilitasi Dosen Tingkatkan Kualitas Publikasi IlmiahRektor Unjani Melantik Para Wakil Rektor dan Kapus: Target Akademik Akreditasi International

Rizky mengungkapkan, penolakan usulan artikel maupun jurnal dalam evaluasi SINTA (Science and Technology Index) cukup tinggi.

“Hampir separuh usulan jurnal yang kami terima ditolak, karena berbagai alasan seperti nama jurnal yang tidak sesuai, atau kualitas terbitan yang tidak memenuhi standar,” ujarnya.

Penolakan ini merupakan bagian dari upaya menjaga integritas dan mutu jurnal ilmiah di Indonesia. (Mong)

0 Komentar