Lalu, di manakah letak keadilannya? Inilah pertanyaan yang banyak konsumen bingungkan. Tanpa adanya payung hukum yang mewajibkan produsen memberikan kompensasi atas penurunan harga yang tajam, maka produsen secara hukum tidak memiliki kewajiban untuk mengganti kerugian konsumen, meskipun dampaknya jelas sangat besar bagi mereka.
Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini?
Sebenarnya, fenomena ini bukan hal baru di dunia otomotif global. Di Tiongkok, kasus serupa pernah terjadi ketika Tesla memberikan diskon besar-besaran pada beberapa model mobilnya. Konsumen yang sebelumnya membeli dengan harga normal merasa dirugikan dan menggelar aksi protes serta mengajukan petisi. Akhirnya, pemerintah Tiongkok ikut turun tangan untuk merespons kekisruhan tersebut.
Pertanyaannya sekarang: apakah pemerintah Indonesia akan bersikap serupa, mengingat jumlah tanda tangan dalam petisi yang beredar saat ini belum mencapai 1.000? Apakah isu ini dianggap cukup penting untuk diintervensi secara langsung?
Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang
Jawabannya masih belum pasti. Kita hanya bisa menunggu dan melihat bagaimana respons dari pemerintah dan produsen.
Satu-satunya hal yang saat ini bisa diharapkan oleh konsumen Wuling adalah adanya itikad baik dari pihak produsen. Bentuknya bisa berupa pemberian kompensasi seperti cashback, layanan servis gratis, atau bentuk lain yang setidaknya dapat mengurangi rasa kerugian yang dirasakan konsumen.
Namun, inilah risiko nyata dari membeli kendaraan listrik (EV). Baik itu motor listrik maupun mobil listrik, keduanya memiliki dinamika pasar yang belum stabil. Beberapa bulan lalu, kita juga sempat dihebohkan dengan diskon besar-besaran dari Honda terhadap model Honda QV, yang sebelumnya dijual seharga Rp50 juta dan tiba-tiba didiskon menjadi sekitar Rp1 jutaan saja. Lantas, bagaimana dengan konsumen yang sebelumnya membeli dengan harga normal?
Sayangnya, mereka hanya bisa pasrah. Pihak Honda pun menyatakan bahwa setiap konsumen telah menerima promosi yang berlaku pada periode pembelian masing-masing, dan hal itu dianggap sah secara aturan.
Pada akhirnya, inilah risiko yang harus disadari oleh siapa pun yang memutuskan membeli kendaraan listrik di tengah pasar yang masih fluktuatif.
SC: Fuse Box
