Sriwaljati juga mengingat kembali pelatihan kewirausahaan yang pernah digelar di SLB Norani. Menurutnya, pelatihan seperti itu sangat penting dan perlu diperbanyak ke depannya.
“Ada sih dulu soal pelatihan yang di SLB Norani dulu. Dari Jawa Barat juga pernah ada, sekitar dua mingguan lah,” ujarnya.
Harapan serupa juga disampaikan Irmawati (55), orang tua dari anak kelas 12 SLB yang pernah mengikuti pelatihan kewirausahaan disabilitas.
Baca Juga:Bersolek Jelang HUT RI, Gang Karangsari Padalarang Jadi Galeri Mural WargaBantu Kendalikan Inflasi, 3.200 Ton Beras Disalurkan ke 160 Ribu Warga Bandung Barat
Ia menilai kehadiran Atalia memberi energi baru bagi orang tua dan anak-anak penyandang disabilitas.
“Sangat senang, anak-anak bisa lebih termotivasi juga. Kan cukup sulit buat cari kerja bagi disabilitas kayak gini,” ucap Irmawati.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menambahkan, mereka ini tidak muluk-muluk ingin anak nya jadi orang sukses dan berhasil, tapi cukup bisa mandiri saja itu sudah membahagiakan.
“Supaya kelak kalau kami sudah tiada, mereka tetap bisa hidup dengan layak,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Irmawati tak kuasa menahan haru saat melihat anaknya mengikuti pelatihan kewirausahaan di SLBN A Cimahi.
Buah hati nya yang kini duduk di bangku kelas 12, dan selama ini belum pernah mencicipi dunia kerja.
“Sangat senang, anak-anak bisa lebih termotivasi juga,” ujarnya.
Bagi Irmawati, pekerjaan bukan sekadar penghasilan. Bagi anak disabilitas, itu adalah bentuk pengakuan bahwa mereka juga mampu, meski dengan cara yang berbeda. Namun realitas berkata lain.
Baca Juga:Kabupaten Bandung Kian Bedas! Big Data dan Dashboard Pimpinan Resmi DiluncurkanRamai Pengibaran Bendera Bajak Laut One Piece Jelang 17 Agustus, Pemkot Bandung Siap Tindak Tegas
“Kan cukup sulit buat cari kerja bagi disabilitas kaya gini,” ucapnya pelan.
Ia tak sekali dua kali mendengar anaknya bertanya, ‘kapan aku bisa kerja, Bu?’ pertanyaan yang tak bisa dijawabnya.
Selama ini, Irmawati hanya berharap ada ruang inklusif di dunia kerja. Tapi harapan itu kian meredup.
Tak banyak perusahaan yang membuka pintu untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Ia menilai, negara harus turun tangan, bukan sekadar lewat seremonial, tapi lewat program berkelanjutan yang bisa mengubah masa depan anak-anak ini.
“Kadang kami orang tua cuma bisa diam,” katanya, menunduk.
“Tapi kalau pemerintah serius bantu, kasih pelatihan dan bikin usaha khusus, kami yakin anak-anak bisa mandiri. Mereka juga ingin berguna, tidak hanya untuk orang tuanya, tapi untuk bangsa ini,” tutupnya dengan lirih. (Mong)
