“Bahwa saya menyaksikan sendiri bahwa ternyata, 25 orang satu kelas itu adalah sangat manusia. Paling banyak 36 itu sudah berdasarkan kajian aturan kementerian,” ungkapnya.
Ia menilai situasi kelas di sekolah umum yang terlalu padat berisiko menurunkan kualitas pembelajaran dan kesejahteraan psikologis anak.
“Bagaimana mungkin anak-anak bisa nyaman kalau mereka duduk berhimpitan, belum gerahnya, belum aktivitasnya,” ujar Atalia.
Baca Juga:Bulog Pastikan Stok Beras di Kota Bandung Aman hingga 6 Bulan KedepanFestival Energi Mineral 2025 Resmi Dibuka, Gaungkan Efisiensi Energi
Ia bahkan mendorong adanya refleksi dari pihak sekolah umum, agar tidak mengklaim sistem mereka sudah sempurna tanpa melakukan perbandingan atau evaluasi.
“Silakan saling mempelajari mana yang lebih baik, tentu itu yang harus kita sesuaikan. Jadi jangan merasa bahwa ini sesuatu hal yang sempurna sebelum kita kemudian melakukan perbandingan dengan hal lain,” tuturnya.
Dalam penutup pernyataannya, Atalia menyampaikan empati terhadap guru-guru di sekolah umum yang kerap kewalahan menangani jumlah murid yang besar.
“Saya katakan diskusikan pada gurunya. Saya mendengar banyak mendapatkan masukan curhatan dari para guru yang mereka kerepotan. Bayangkan ngurus anak yang 25 itu saja repot apalagi dua kali lipat, apalagi di masa-masa mereka itu adalah usia remaja. Tolonglah dipikirkan bukan urusan kuantitas tapi kualitas,” pungkasnya. (Mong)
