BPBD juga menyoroti pentingnya penguatan mitigasi struktural dan komunitas, terutama di lingkungan yang memiliki kerentanan tinggi.
Didi mengungkapkan bahwa masih banyak wilayah di Kota Bandung yang secara tata ruang dan infrastruktur belum siap menghadapi dampak gempa, baik dari segi bangunan, jalur evakuasi, maupun kesadaran warga.
“Kita juga akan menyasar lingkungan-lingkungan yang memiliki kerentanan tinggi, baik dari sisi sosial maupun fisik. Itu akan kita perbaiki bersama agar lebih siap saat bencana datang,” lanjutnya.
Baca Juga:Pemprov Jabar Berencana Bentuk Superholding BUMD, Miniatur Danantara?Transparansi Dana Desa Kini Digital, Kabupaten Bogor Siap Kawal Lewat Aplikasi Jaga Desa
Selain edukasi untuk masyarakat umum, BPBD juga menyiapkan program edukasi di sektor pendidikan, terutama di sekolah-sekolah yang berada di zona rawan. Rencananya, simulasi evakuasi bencana akan digelar di sejumlah sekolah, dengan skenario gempa dan evakuasi menuju titik aman.
“Simulasi awal akan kita mulai dari lingkungan sekolah. Nanti akan diidentifikasi titik-titik evakuasi, jalur evakuasi, dan bagaimana prosedurnya,” ungkap Didi.
Tak hanya berhenti di institusi pendidikan, BPBD juga melibatkan komunitas masyarakat dalam program edukasi kebencanaan.
Salah satu inisiatif yang tengah berkembang adalah program Ketahanan Keluarga Tangguh Bencana, yang memberikan pelatihan kepada keluarga untuk mengetahui titik-titik aman di dalam rumah serta langkah-langkah penyelamatan dini.
“Kita juga sedang dorong edukasi sampai ke tingkat keluarga. Misalnya, di dalam rumah titik mana yang paling aman saat terjadi gempa. Ini semua akan diintegrasikan agar masyarakat tidak hanya tahu, tapi juga siap bertindak,” tambah Didi.
Melalui rangkaian program ini, BPBD berharap dapat menciptakan budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Menurut Didi, mitigasi yang efektif bukan hanya soal alat atau teknologi, tetapi lebih pada kesiapan mental dan pengetahuan dasar masyarakat dalam menghadapi situasi darurat. (Dam)
Reporter: Sadam Husen Soleh Ramdani
