Kajian tersebut juga akan mencakup aspek sosial ekonomi, seperti potensi dampak terhadap pengemudi angkot, pedagang kaki lima (PKL), hingga lokasi halte dan depo yang akan dibangun.
“World Bank sudah turun ke lapangan. Mereka menilai siapa saja yang terdampak, termasuk sopir, PKL, dan masyarakat sekitar jalur BRT. Target kita, kajian ini selesai tahun ini agar pembangunan halte dan depo bisa segera dimulai,” katanya.
Menurut Rasdian, ke depan Pemkot Bandung berupaya mendorong transformasi angkot menuju layanan yang lebih modern dan terintegras seperti angkot pintar yang didukung teknologi, efisiensi energi, dan kualitas layanan yang lebih baik bagi masyarakat. (Dam)
