Namun, mengapa Honda tetap bersedia menanggung kerugian?
Pertama, karena Honda ingin masyarakat merasakan pengalaman menggunakan motor listrik agar mau beralih ke kendaraan listrik Honda di masa depan.
Kedua, saat ini belum ada produsen motor Jepang lain yang berani mengambil langkah pertama dalam menghadirkan motor listrik secara masif. Dan kali ini, Honda yang memilih untuk berkorban lebih dulu.
Ketika motor matik pertama kali muncul di pasar, Yamaha adalah produsen yang membentuk pasar dan secara aktif mengedukasi konsumen melalui produk Yamaha Mio-nya. Setelah Yamaha Mio meraih kesuksesan, Honda masuk sebagai pengekor tanpa melakukan edukasi maupun membentuk pasar terlebih dahulu. Namun secara mengejutkan, Honda justru berhasil menguasai pasar.
Baca Juga:6 Alasan Infinix Hot 60 Pro Layak Jadi Smartphone Rp2 Jutaan Terbaik 2025Aplikasi AMV Scam, Pengguna Malah Disuruh Bayar Pajak Setelah Ditipu
Sebaliknya, ketika Yamaha bersikap pasif dalam segmen motor matik, maka sudah sewajarnya Honda yang harus mengambil peran lebih besar, termasuk berkorban. Sayangnya, langkah yang diambil Honda dalam hal ini bisa dibilang cukup agresif, yakni dengan memberikan diskon besar-besaran.
Berbeda dengan pendekatan Yamaha yang lebih halus dan berfokus pada edukasi konsumen, Honda justru langsung menawarkan potongan harga besar untuk menarik minat pasar. Namun, diskon besar-besaran ini justru kadang menimbulkan keraguan, bukan ketertarikan. Muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan seperti bagaimana nasib motor ini ke depannya? Jika memang Honda hanya ingin menghabiskan sisa stok, bagaimana dengan ketersediaan suku cadangnya? Bagaimana dengan layanan purnajualnya? Dan bagaimana pula dengan nilai jual kembalinya?
Perlu diingat, banyak konsumen yang memilih merek Honda karena mempertimbangkan harga jual kembali.
Mari kita pertimbangkan skenario terburuk terlebih dahulu, jika benar Honda hanya ingin menghabiskan stok, kemungkinan besar suku cadangnya akan sedikit sulit ditemukan. Meski masih bisa dipesan, kemungkinan besar harus melalui sistem inden.
Selain itu, untuk layanan purnajual seperti servis di dealer, apabila motor ini mengalami kerusakan yang tidak umum atau abnormal, besar kemungkinan pihak dealer akan mengalami kesulitan atau memerlukan waktu lebih lama untuk memperbaikinya. Mengapa demikian? Karena alat pendukung dan perlengkapan teknisnya kemungkinan belum tersedia secara lengkap. Terutama di dealer-dealer kecil, kondisi ini tentu akan semakin menyulitkan proses perbaikan.
