Sementara itu, Pisepuh Aliran Kebatinan Perjalanan Kabupaten Bandung Barat, Suwardi, menguraikan makna mendalam dari peringatan Tahun Baru Saka Indonesia.
Ia menyebut bahwa ajaran Sastra Jendra Rahayuningrat mencakup esensi hidup, termasuk pentingnya gotong royong sebagai nilai dasar kehidupan bermasyarakat.
“Gotong royong itu sudah ada dalam diri kita. Seperti jika kaki menginjak batu hingga berdarah, tangan dan perasaan juga ikut merasakan sakitnya. Artinya, seluruh tubuh merespons. Itu gotong royong, dan itu sudah ada sejak lahir,” ujar Suwardi.
Baca Juga:Jaringan Perdagangan Bayi Internasional Terungkap, 12 Tersangka DicidukPersib Belum Selesai Berburu, 5 Pemain Bakal Datang saat TC di Thailand
Namun, Suwardi menyayangkan bahwa semangat gotong royong kini mulai memudar. Menurutnya, kendala terbesar justru bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam diri manusia itu sendiri.
“Diajak kerja bakti sama Pak RT saja banyak alasan. Padahal itu untuk memelihara lingkungan kita sendiri. Kalau seperti itu, orang itu bisa dibilang tidak tahu diri, tidak tahu makhluk, tidak tahu berterima kasih,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong tidak bisa digantikan oleh kepentingan upah atau imbalan. Dulu, kata Suwardi, masyarakat membantu sesama dengan tulus, tanpa pamrih. Kini, nilai itu telah memudar karena segala sesuatu diukur dengan uang.
“Dulu orang bikin rumah, hajatan, tanpa diundang pun orang-orang datang membantu. Sekarang? Semua pakai hitung-hitungan uang. Gotong royong sudah hilang,” sebutnya.
Ia pun menegaskan bahwa gotong royong bukan hanya milik komunitas kepercayaan, melainkan milik semua umat manusia.
“Karena contoh dan nilainya sudah ada dalam diri kita sendiri. Tinggal kemauan untuk melaksanakannya,” tegas Suwardi lagi. (Mong)
