JABAR EKSPRES – Kota Bandung kembali menjadi sorotan nasional setelah dinobatkan sebagai kota paling macet di Indonesia. Bahkan, laporan dari sejumlah lembaga menyebut Bandung masuk jajaran kota paling macet di dunia.
Dilansir dari laman Goodstat, Bandung menempati peringkat pertama sebagai kota paling macet di Indonesia, dengan rata-rata waktu tempuh 32 menit 37 detik per 10 km dan tingkat kemacetan mencapai 48 persen. Sedangkan versi TomTom Traffic Index, Kota Kembang duduki peringkat 12 kota paling macet di dunia.
Diakui Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, salah satu faktor utama kemacetan di Kota Kembang diakibatkan oleh tingginya jumlah kendaraan pribadi. Ia mengungkapkan, berdasarkan data Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), tercatat hampir 2,5 juta kendaraan pribadi terdaftar di Kota Bandung.
Baca Juga:Pariwisata di KBB Lesu, PHRI Harap Kebijakan Mendagri Jadi Titik BalikAkibat Ledakan Tabung Gas, 4 Orang Warga Andir jadi Alami Luka Bakar
Jumlah ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Bandung yang mencapai sekitar 2,6 juta jiwa. Artinya, rasio kendaraan terhadap penduduk nyaris satu banding satu.
“Gimana gak padat. Hampir tiap orang punya kendaraan pribadi. Tapi tidak bisa semata-mata menyalahkan masyarakat,” Kata Farhan kepada awak media, di Cafe Bali, Kota Bandung, Senin (16/6).
Selain itu, menurutut Farhan, permasalahan utama lainnya adalah buruknya sistem transportasi umum di kawasan Bandung Raya. Hingga kini, belum ada jaringan transportasi massal yang efisien, nyaman, dan terintegrasi dengan baik. Angkutan kota (angkot) yang menjadi tulang punggung selama ini dinilai sudah tidak relevan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat modern.
Sebagai upaya mengurai kemacetan yang semakin parah, Pemerintah Kota Bandung bersama Dinas Perhubungan dan pihak terkait tengah mempersiapkan implementasi sistem Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Bandung Raya. BRT diharapkan menjadi solusi jangka menengah untuk menghadirkan moda transportasi massal yang cepat, terjangkau, dan dapat diandalkan.
“Hari ini sedang berlangsung rapat koordinasi dengan tim BRT nasional di Jakarta. Teman-teman Dishub kita kirim untuk percepatan realisasi proyek ini,” tambahnya.
Proyek BRT Bandung Raya sendiri merupakan bagian dari program National Urban Transport Improvement Project (NUTIP) yang didukung oleh pendanaan Bank Dunia. Pemerintah menargetkan layanan BRT ini bisa mulai uji coba pada 2025 mendatang, dengan trayek utama yang menghubungkan pusat Kota Bandung dengan kawasan satelit seperti Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Sumedang.
